Jumat, 30 Desember 2016

Maksud dan Tujuan Menikah


Aku merenungkan faidah-faidah, makna-makna dan pokok-pokok masalah pernikahan; maka aku melihat bahwa tujuan yang paling utama dari pensyariatannya adalah lahirnya keturunan (regenerasi); karena makhluk hidup (seperti kita) ini selalu selalu mengalami penguraian, kemudian bagian tubuh yang terurai ini akan digantikan oleh makanan, kemudian begian pokoknya akan terurai juga , yang itu tidak bisa digantikan oleh apapun juga. Jadi tubuh manusia ini pasti binasa, sedangkan yang diinginkan adalah terus berkelanjutannya waktu dunia, maka keturunan dijadikan sebagai pengganti dari nenek moyang asalnya.

Dan karena bentuk persetubuhan itu tertolak oleh jiwa yang mulia, berupa membuka aurat dan bertemunya sesuatu yang kurang elok dipandang oleh dirinya sendiri, maka dijadikanlah syahwat birahi untuk mendorong seseorang melakukannya; agar maksud yang diinginkan bisa tercapai.

Kemudian aku perhatikan bahwa tujuan utama ini diikuti juga oleh tujuan yang lain, yaitu mengeluarkan air mani yang bila terus ditahan, keberadaannya akan menjadi penyakit. Bila berkumpulnya mani terus bertambah, itu akan membuat resah, seperti resahnya seorang yang menahan air kencingnya. Hanya saja dari sudut esensinya, kegelisahan yang ditimbulkan oleh tertahannya mani lebih berat daripada kegelisahan yang ditimbulkan secara fisik oleh tertahannya air seni. Banyak bertumpuknya mani dan lamanya ia tertahan (di dalam tubuh) akan menyebabkan berbagai penyakit yang sulit untuk disembuhkan.

Maka barangsiapa yang menginginkan anak yang cerdik dan memenuhi kebutuhan biologisnya, hendaknya dia memilih siapa yang akan dia nikahi:

Bila dia ingin mencari istri, hendaknya melihatnya dulu. Bila wanita itu menarik hatinya, maka hendaklah dia menikahinya. Imam Ahmad telah menyatakan bolehnya seorang lelaki melihat sesuatu yang sebenarnya menjadi aurat dari perempuan yang ingin dia nikahi. Yang beliau maksudkan di sini adalah yang lebih dari sekadar melihat wajah.

Kemudian bagi orang yang hendak memilih istri, hendaknya dia mengecek tentang akhlaknya, karena akhlak termasuk hal yang tersembunyi. Bentuk fisik (yang indah) bila tanpa diiringi bagusnya jiwa, tak ubahnya seperti tanaman hijau dan bagus yang tumbuh di tempat kotor. Padahal mendapatkan anak yang cerdas menjadi tujuan yang ingin dicapai.

Maka barangsiapa yang mampu mendapatkan wanita yang shalihah, baik secara fisik maupun jiwa, hendaknya dia menutup mata dari berbagai kekurangannya. Sang perempuan juga hendaknya berupaya untuk mencari hal-hal yang membuat suami ridha. Ketika dekat tidak membuat jemu, kala jauh tidak membuat lupa. Sang istri hendaknya berani untuk mempersembahkan berbagai aksi untuk sang suami. Dari situ akan terwujud dua maksud; memperoleh anak dan bisa memenuhi kebutuhan biologis. Kemudian bila dia memang mampu untuk memperbanyak, lalu dia menambahkan (istri) yang lainnya, dan dia tahu bahwa dengan hal itu dia akan mencapai tujuan yang membuat hatinya lebih tenang, maka itu lebih utama bagi kondisinya.

Tapi kalu dia takut terjadi kecemburuan yang membuat hati menjadi terusik -padahal kita telah mengupayakan untuk membuat hati ini fokus dengan apa yang ingin dicapai -, atau takut akan keberadaan istri yang molek yang bisa melupakan akhirat, atau yang meminta hal yang membuat suami keluar dari sikap wara', maka cukuplah satu istri baginya.

Mencintai wanita yang dicinta bisa menyalurkan air mani yang terkumpul, sehingga akan menghasilkan diperolehnya anak yang cerdik, dan sekaligus terpenuhinya kebutuhan biologis yang sempurna.

- Shaidul Khatir. Ibnul Jauzi. Darul Haq -
Read More

Senin, 26 Desember 2016

Antara Ilmu dan Amal


Aku renungkan maksud di balik penciptaan manusia, ternyata adalah (agar dia) merendahkan diri (terhadap Allah), dan meyakini bahwa dirinya telah melakukan kekurangan dan memiliki kelemahan. Aku contohkan para ulama dan ahli zuhud yang mengamalkan apa yang mereka punya dalam dua klasifikasi Aku kategorikan (nama-nama berikut)dalam barisan ara ulama: 
Malik, Sufyan, Abu Hanifah, Asy-Syafi'i, dan Ahmad. Sedangkan dalam barisan para ahli ibadah: Malik bin Dinar, Rabi'ah, Ma'ruf al-Karkhi, dan Bisyr bin al-Harits.
Setiap kali para ahli ibadah bersungguh-sungguh dalam ibadah, maka kondisi diri mereka seolah berkata, "Ibadah kalian manfaatnya hanya dirasakan oleh kalian saja. Yang manfaatnya menjalar pada orang lain hanyalah para ulama. Merekalah pewaris para nabi, para pemimpin di muka bumi. Merekalah yang dijadikan sebagai pegangan. Merekalah yang mempunyai keutamaan apabila mereka menundukkan hati, khusyu', dan tahu kebenaran keadaan tersebut...". Malik bin Dinar datang kepada al-Hasan untuk belajar darinya. Dia berkata, "Al-Hasan adalah ustadz kami."
Demikian pula bila para ulama tahu bahwa mereka memiliki keutamaan dengan ilmu, maka kondisi diri mereka (Seolah) berteriak dengan lantang kepada para ulama, "Bukankah tidak ada tujuan dari ilmu selain untuk diamalkan?!"
Ahmad bin Hanbal berkata, "Bukankah tidak ada yang dimaksudkan dari ilmu selain apa yang telah dicapai oleh Ma'ruf (al-Karkhi)?! " .
Ummu ad-Darda` berkata kepada seorang lelaki, "Apakah engkau mengamalkan ilmu yang telah engkau ketahui?" Dia menjawab, "Tidak" Ummu ad-Darda` berujar, Lalu mengapa engkau justru memperbanyak hal yang akan menjadi bukti (hujjah) Yang memberatkanmu (kelak)?"
Maka Firman Allah  berikut tidaklah mempengaruhi semua orang, 

"Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui? (Az-Zumar:9)

Sufyan datang kepada Rabi'ah, lalu dia duduk di hadapannya untuk mengambil faidah ucapannya.
Ilmu menunjukkan kepada para Ulama bahwa yang menjadi tujuan ilmu adalah untuk diamalkan, dan bahwa ilmu adalah perangkat . Maka dari itu para ulama penuh khusyu' dan mengakui kekurangan (yang telah mereka lakukan)
Masing-masing dari mereka mempunyai pengakuan dan kerendahan (di hadapan Allah); maka pengetahuan mereka menghasilkan hakikat ibadah dengan pengakuan mereka. Dan itulah maksud dari taklif (dibebankannya syariat atas hamba)

- Shaidul Khatir, Ibnul Jauzy , Darul Haq -
Read More