Rabu, 13 Desember 2017

Syarat-syarat agar Doa Mustajab



10 Syarat agar doa Mustajab (dikumpulkan oleh Ibnu Jamaah dalam 3 bait syair). Para ulama berkata, bahwa syarat doa yang mustajabah diantaranya adalah :

1. Dalam keadaan bersuci
2. Membaca Sholawat kepada Nabi Muhammad Shallalahu 'alaihi wasalam.
3. Disertai dengan penyesalan dan taubat.
4. Berdoa diwaktu-waktu mustajabah (antara adzan dan iqomat, di 1/3 malam terakhir, dihari jumat khususnya selepas shalat ashar hingga matahari terbenam)
5. Khusyuk didalam berdoa (menghadirkan hati)
6. Berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa ta'ala (karena Allah sesuai persangkaan hambanya)
7. Hendaknya makan dari sumber yang halal
8. Berdoa tidak dengan doa maksiat
9. Diawal doanya disertai dengan penyebutan Asmaul Husna yang sesuai dengan permohonannya, (misal mau memohon rizki maka doanya Ya Allah, Ya Razzaq, Ya Kariim)
10. Memohon dengan penuh kesungguhan.
sumber

Berikut beberapa tambahan lagi terkait dengan doa :

Alhamdulillah

Syarat berdoa banyak, di antaranya:

1. Tidak berdoa kecuali kepada Allah Azza Wajalla. Nabi sallallahu aliahi wa sallam mengatakan kepada Ibnu Abbas, “Jika engkau meminta, maka memintalah kepada Allah. Kalau engkau meminta bantuan, mintalah bantuan kepada Allah.” (Dinyatakan shahih oleh Albani dalam Shahih Al-Jami’, no. 2516. HR. Tirmizi)

Dan ini makna dari firman Allah Ta’ala:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُو مَعَ اللَّهِ أَحَداً (سورة الجـن: 18(

“Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. Jin: 18)

Syarat ini termasuk syarat doa yang paling agung. Tanpanya tidak akan diterima doa dan tidak akan diangkat amalannya. Diantara manusia –ada yang berdoa kepada mayit dan menjadikannya sebagai perantara antara mereka dengan Allah. Mereka menyangka bahwa orang-orang sholeh dapat mendekatkan kepada Allah dan sebagai wasitah (perantara) mereka disisi Allah Subhanah. Mereka merasa berdosa dan tidak ada kedudukan di sisi Allah. Oleh karena itu mereka menjadikan perantara dengan berdoa kepada mereka selain Allah. Sementara Allah subhana Wata’ala berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ (سورة البقرة: 186(

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

2. Bertawasul kepada Allah dengan salah satu macam tawasaul yang diperbolehkan.

3. Tidak tergesa-gesa. Karena ia termasuk kekeliruan dalam berdoa yang menghalangi terkabulnya doa. Disebutkan dalam hadits:

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ: قَدْ دَعَوْتُ اللَّهَ، فَلَمْ يَسْتَجِبْ لِي (رواه البخاري، رقم 6340 ومسلم، رقم 2735(

“Dikabulkan salah seorang diantara kalian (doanya) selagi tidak tergesa-gesa. Seraya dia mengatakan, “Saya telah berdoa dan belum dikabulkan untukku.” (HR. Bukhori, no. 6340 dan Muslim, no. 2735).

Dalam Shahih Muslim, no. 2736:

لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ , مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ "، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ مَا الِاسْتِعْجَالُ؟، قَالَ: " يَقُولُ: قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ , فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِي , فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ "

“Doa seorang hamba senantiasa terkabulkan selagi tidak berdoa untuk dosa, memutus kekerabatan dan selagi tidak tergesa-gesa.” Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah apa tergesa-gesa itu?” Beliau menjawab, “Dia berkata, aku sudah berdoa, aku sudah berdoa tapi aku tidak melihat dikabulkan sehingga dia merasa kecewa akan hal itu lalu dia meninggalkan doa.”

4. Berdoa bukan untuk dosa dan memutus (kekerabatan) sebagaimana hadits tadi. “Doa seorang hamba akan dikabulkan selagi tidak berdoa untuk dosa dan memutus silaturrahim.

5. Berbaik sangka kepada Allah. Rasulullah saw bersabda, “Allah Taala berfirman,

“Aku tergantung persangkaan hambaKu kepadaKu.” (HR. Bukhari, no. 7405, Muslim, no. 4675)

Juga disebutkan dalam hadits Abu Hurairah,

ادْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ (رواه الترمذي , وحسنه الألباني في صحيح الجامع، رقم 245)

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin bahwa doa kalian akan dikabulkan.” (HR. Tirmizi, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami, no. 245)

Siapa yang bersangka baik kepada Allah, maka Allah akan balas dengan kebaikan yang banyak, akan ditebar kepadanya berbagai karuniaNya.

6. Hadirnya hati. Hendaknya orang yang berdoa menghadirkan hati dan merasakan keagungan siapa yang dia berdoa kepadanya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ لَاهٍ (رواه الترمذي، رقم 3479 وحسنه الألباني في صحيح الجامع، رقم 245)

“Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmizi, no. 3479, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami, no. 245)

7. Mengkonsumsi yang halal. Allah Taala berfirman,

إنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (سورة المائدة: 27)

“Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyatakan bahwa doa tertolak bagi orang yang makan dan minum serta memakai barang yang haram. Disebutkan dalam hadits bahwa beliau menyebutkan seseorang yang sehabis menempuh safar, kusut dan dekil, lalu dia mengangkat kedua tangannya ke langit dan mengucapkan, ya rabbi ya rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan tumbuh dari barang haram, bagaimana doanya diterima?! (HR. Muslim, no. 1015)

Ibnu Qayim berkata, “Demikian pula memakan makanan haram, menghilangkan kekuatannya (kekuatan doa) dan melemahkannya.”

8. Hindari doa yang melampaui batas. Allah Taala tidak menyukai sikap melampuai batas dalam berdoa. Allah Taala berfirman,

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ (سورة الأعراف: 55)

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf: 55)

Perhatikan soal no. 41017

9. Jangan sibuk berdoa sehingga meninggalkan kewajiban, seperti meninggalkan kewajiban yang saat itu harus dilakukan atau meninggalkan hak-hak yang saat itu harus ditunaikan, seperti meninggalkan hak orang tua dengan alasan berdoa. Kisah Juraij orang yang ahli ibadah memberikan isyarat akan hal itu, karena dia mengabaikan panggilan ibunya dan melanjutkan shalatnya, sehingga dia meninggalkannya, akhirnya Allah mengujinya.

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama berkata, ‘Ini merupakan dalil bahwa yang benar baginya ketika itu adalah memenuhi panggilan ibunya, karena saat itu dia sedang shalat sunah, melanjutknnya adalah sunah, tidak wajib, sementara memenuhi panggilan ibunya dan berbakti kepadanya merupakan kewajiban dan durhaka kepadanya adalah haram.” (Shahih Muslim, Syarah An-Nawawi, 16/82)

Sebagai tambahan, hendaknya dilihat kitab ‘Ad-Du’a’ Muhamad bin Ibrahim Al-Hamad.

Wallahua’lam.

Read More

Sabtu, 09 Desember 2017

Mengapa kita perlu membaca ?


Umat Islam membaca dengan tujuan sebagai berikut :
  • Untuk mendapatkan Pahala membaca, seperti pada saat Membaca Al-Qur'an
  • Untuk mempelajari ilmu agama, dan meningkatkan pemahaman tentang agama
  • Dengan mengulang-ulang membaca, sehingga dapat menghafalkan. 
  • Untuk mempelajari kisah orang-orang kafir, dan untuk mewaspadai tipu daya orang-orang munafik dan penyipangannya.
  • Untuk mengembangkan kemampuan linguistik (bahasa) mereka, dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat di dunia.
  • Untuk menjaga diri dari perbuatan yang jelek, karena jika kita tidak membuat jiwa ini sibuk dengan ketaatan, maka jiwa ini akan sibuk dengan hal-hal yang terlarang.
  • Untuk nyaman bersantai dengan melakukan perbuatan yang halal.  
Ada juga tujuan lainnya yang tentunya bermanfaat dalam kehidupan ini.

Menurut pandangan orang-orang jahil, suatu masyarakat dianggap berpendidikan jika kebanyakan dari mereka adalah orang yang suka membaca, terlepas dari apa yang mereka baca. Orang yang menganut metode ini, mereka membaca hanya sekedar untuk membaca saja.
Dengan demikian, mereka menganggap membaca itu adalah merupakan tujuan akhirnya, dan bukan menganggapnya sebagai sarana. Itulah sebabnya mereka membaca semuanya, tanpa memeriksanya terlebih dahulu dan menyaringnya terlebih dahulu buku yang dibaca. Adapun untuk seorang Muslim, membaca untuk mereka adalah merupakan sarana untuk mewujudkan sebuah tujuan, yang menghasilkan Ridho dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dengan demikian, seorang Muslim tidak membaca untuk bersaing dengan para Ulama, Muslim tidak membaca untuk berdebat dengan orang-orang bodoh, atau untuk mendapatkan perhatian dari masyarakat. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengancam akan memasukkan siapa saja yang membaca dengan tujuan tersebut ke dalam neraka, Apalagi mereka tidak membaca untuk menemukan kesalahan dan mencari kekeliruan dalam dirinya, karena hal tersebut bertentangan dengan keikhlasan.

Seorang Muslim juga tidak akan membaca apa yang tidak bermanfaat untuk agama dan dunia mereka, karena waktu mereka sangatlah berharga.


Terjemah Bebas dari buku karya Syaikh Al Munajjid berjudul : How to read books?
Read More

Keistimewaan Khusus dari Buku


Buku adalah tetangga yang baik, guru yang rendah hati dan patuh, dan teman setia yang tidak pernah menghianati kita. Pernahkan anda melihat guru yang rendah hati kepada muridnya? sebagaimana rendah hatinya buku kepada pembacanya. Begitulan cara buku santun kepada pembacanya. Buku adalah pendamping yang sangat bermanfaat, dan pohon yang selalu bersemangat dalam menghasilkan buah. Terkumpul semua kebaikan dalam buku, mengembangkan kecerdasan, dan menceritakan kisah dari generasi sebelumnya dari tempat yang jauh, sehingga dapat menjernihkan akal dan menajamkan pikiran, memperluas cakrawala pengetahuan, memperkokoh kemauan, memberikan hiburan dalam kesendirian, memberikan manfaat dan tidak mengambil keuntungan, memberi kepada kita dan tidak meminta. 

Buku tidak memandang jarak dan tempat atau waktu, juga tidak memandang batas-batas geografis, dengan demikian pembaca dapat 'hidup'  bersama buku dalam semua waktu sepanjang masa, disemua kerajaan dan di semua wilayah dan dapat menemani orang-orang hebat dan tingkah laku mereka, meskipun itu memakan waktu bertahun-tahun.

Renungkanlah keadaan seorang Muslim, ketika mereka membaca kisah-kisah Para Nabi 'alaimus shalatu wa salam di dalam Al-Qur'an. Para Nabi hidup di daerah yang sangat jauh, berabad-abad yang lalu lamanya. Dengan Membaca Al-Qur'an, kita dapat mengetahui kisah mereka, seolah-olah kita tinggal bersama mereka, Jadi kita membaca Kisah Nabi Ibrahim 'alaihissalam,Nabi Ishaq 'alaihissalam, Nabi Ya'kub 'alaihissalam, Nabi Nuh 'alaihissalam, Nabi Dawud 'alaihissalam, Nabi Sulaiman 'alaihissalam, Nabi Ayyub 'alaihissalam, Nabi Yusuf 'alaihissalam, Nabi Musa 'alaihissalam, Nabi Harun 'alaihissalam, Nabi Zakariya 'alaihissalam, Nabi Yahya 'alaihissalam, Nabi Isa 'alaihissalam, Nabi Ilyas 'alaihissalam, Nabi Isma'il 'alaihissalam, Nabi Ilyasa 'alaihissalam, Nabi Yunus 'alaihissalam, Nabi Luth 'alaihissalam dan Para Nabi lainnya dan Orang-orang shalih yang kisahnya disebutkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah (Hadist), kita membaca berita mereka dan seolah-olah kita tinggal bersama mereka. Maka renungkanlah manfaat yang diperoleh ini yang bisa didapatkan melalui membaca buku, betapa beruntung dan istimewanya mereka yang mau membaca.

Terjemah Bebas dari dari buku karangan Syaikh Al-Munajjid dengan judul: how to read books?
Read More

Jumat, 08 Desember 2017

Kedudukan Kitab dihati Para Ulama


Kitab memiliki kedudukan yang sangat tinggi di hati Para Ulama, kitab adalah teman yang tidak pernah membuat bosan, teman dalam perjalanan, teman dalam keramaian dan hiburan saat berada dalam kesepian di keterasingan. Seperti yang pernah dikatakan oleh Ibnul Mubarak,semoga Allah merahmatinya:
"Wahai Ibnul Mubarak, Mengapa engkau tidak keluar dan bercengkrama bersama para sahabatmu",
Beliau Menjawab : "Ketika saya berada didalam rumah, saya sedang duduk dan bercengkrama dengan sahabat Rasulullah Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa sallam" . 
Maksudnya, beliau sedang membaca Siroh Para Sahabat.
Safiq bin Ibrahim Al-Balkhi semoga Allah merahmatinya, berkata kepada Ibnul Mubarak :
"Saat shalat anda bersama kami, namun mengapa anda tidak duduk bercengkrama bersama kami setelah shalat",
Beliau menjawab : "Saya duduk bersama Para Tabi'in dan Para Sahabat",
kami bertanya :"Dimana para Tabi'in dan Para Sahabat?",
Beliau menjawab :"Saya membaca dan mempelajari perjalanan hidup mereka, kemudian saya meneladani perkataan dan perbuatan mereka. Apa yang akan saya lakukan bila duduk bersama kalian, kalian duduk bercengkrama dan membicarakan orang lain"

Az-Zuhri, semoga Allah merahmatinya, memiliki koleksi kitab yang sangat banyak dan biasa membawanya ke manapun beliau pergi sehingga istrinya berkata :"Demi Allah, Kitab-kitab ini lebih berat bagiku daripada tiga rekan istri". Dikatakan kepada salah seorang Ulama :"Apa yang dapat membuat hatimu terhibur?", Beliau Menjawab "Ini", sambil menepuk-nepuk buku dengan tangannya dan berkata "Bacalah". kemudian dikatakan : "Bagaimana dengan orang-orang?" Beliau menjawab :"Mereka ada dalam buku ini"
Para Ulama biasa membaca sepanjang waktu, Ibnul Qayyim, semoga Allah merahmatinya, berkata :"Saya mengetahui ada diantara mereka yang sedang terbaring karena sakit kepala atau demam namun buku-bukunya tetap berada dibawah kepala mereka, kapanpun mereka terbangun mereka akan membaca buku tersebut, dan jika mereka menghadapi keadaan sulit atau kelelahan, mereka akan meletakkan buku-buku tersebut kemudian istirahat" Ketika tabib (dokter) datang untuk memeriksanya dan melihat keadaan yang seperti itu, dokter tersebut kemudian berkata :"Anda tidak boleh melakukan hal seperti ini",

Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Lu’lu’i, semoga Allah merahmatinya, berkata: "Empat puluh tahun hidupku berlalu, dan aku tidak pernah terbangun atau tidur kecuali bahwa ada buku di dadaku.". Yang lainnya terbiasa tidur dengan buku catatan berada disekitar tempat tidurnya, mereka akan membaca buku catatan tersebut ketika mereka terbangun dari tidur, dan sebelum tidur. Al Hafidh Al-Khatib Al-Baghdadi, semoga Allah merahmatinya, biasa berjalan dengan membawa berjilid-jilid buku, sambil membacanya. Sebagian Ulama lainnya ada yang memberikan syarat kepada yang mengundang untuk menyediakan tempat khusus di acara tersebut yang dapat digunakan untuk menempatkan sebuah buku supaya bisa membaca buku. Bahkan ada diantara mereka yang saat sedang membaca didepan sebuah lentera, api dari lentera tersebut membakar surban mereka dan mereka tidak menyadarinya sampai api tersebut membakar beberapa helai dari rambut mereka dan barulah mereka menyadari.

Abu Al-`Abbaas Al-Mubarrid, semoga Allah merahmatinya, berkata : "Saya tidak pernah melihat seseorang yang lebih tertarik kepada ilmu kecuali tiga orang : Al-Jaahith (dan dia adalah seorang Mu'tazilah), Al-Fath bin Khalqaan dan Ismail bin Ishaq Al-Qadhi. Adapun Al-Jaahith, ketika dia meletakkan sebuah buku di depannya,  dia akan membacanya dari awal sampai akhir buku tersebut, apapun jenis buku tersebut. Adapun Al-Fath bin Khalqaan, Ia selalu membawa buku didalam sakunya, ketika dia pergi untuk buang air kecil atau untuk mendatangi masjid ketika hendak Shalat, dia mengambil buku tersebut kemudian membaca sambil berjalan, hingga sampai ke tempat tujuan, kemudian melakukan hal yang sama ketika beliau pulang hingga sampai ke tempat duduknya. Adapun untuk Ismail bin Ishaq, maka saya sama sekali tidak pernah masuk ke rumahnya, kecuali dia sedang membaca buku, atau sedang membolak balik buku untuk memilih buku yang akan ia baca"

Kegemaran para Salafus Shalih dan Ulama Islam dalam mengumpulkan dan membaca buku benar-benar sangat luar biasa. Ibnul Jauzy semoga Allah merahmatinya, berkata :"Saat menceritakan tentang diri saya, saya tidak akan pernah puas dalam membaca buku. Jika saya menemukan sebuah buku yang belum pernah saya baca, maka seolah-olah saya menemukan sebuah harta karun yang sangat berharga. Saya telah membaca dua puluh ribu jilid buku, bahkan lebih dari itu, dan saya masih menuntut ilmu"  Yang lain berkata:  "Jika saya menemukan sebuah buku bagus dan berharap itu akan bermanfaat, dan ternyata buku tersebut bagus dan bermanfaat, saya akan terus melihat berapa banyak halaman yang tersisa saat membaca, karena takut akan segera menyelesaikan buku ini."

Para Ulama biasa menghabiskan kekayaannya untuk mendapatkan buku, bahkan mereka rela menghabiskan harta benda apapun yang dimiliki untuk mendapatkan buku. Al-Fayrus Abaadi semoga Allah merahmatinya, menghabiskan 50.000 dinar emas untuk membeli buku-buku, dan beliau tidak akan bepergian tanpa buku yang beliau bawa dan beliau baca setiap kali beliau berhenti dalam perjalanannya.

Sebagian Ulama akan memperhatikan pembuatan tempat saku untuk buku ketika menjahit pakaian, Seperti yang dilakukan Imam Abu Dawud, semoga Allah merahmatinya, dahulu biasanya jenis pakaian ada yang memiliki model lengan yang longgar dan ada lengan yang sempit, dibawakan kepada beliau kedua model pakaian tersebut, kemudia beliau berkata :"Pakaian dengan model lengan lebar adalah untuk menempatkan buku, sedangkan model lengan yang sempit tidak diperlukan". Sebagian Ulama memiliki rak buku (tempat buku), dan bahkan mereka memiliki 3 salinan untuk setiap buku yang mereka miliki.

Perhatian yang mendalam Para Ulama terhadap buku terlihat dari tulisan dan karya-karya mereka yang berhubungan dengan buku dan penulisan. Para Ulama menulis bab khusus tentang  etika seorang penuntut ilmu ketika berinteraksi dengan buku, bagaimana cara yang baik dalam menulis buku, menganjurkan mereka untuk menggunakan kertas yang bagus untuk menulis, pena yang bagus dan nyaman untuk menulis, tinta yang berkualitas dan warnanya, cara merawat buku yang baik, dan etika-etika yang lainnya.

[Selesai]

Terjemah Bebas dari buku karya Syaikh Al Munajjid berjudul : How to read books?
(gambar diambil dari instagram Ustadz act_elgharantaly)
Read More

Sabtu, 02 Desember 2017

Download Ebook Hadiah Indah Penjelasan Tentang Sunnah-Sunnah Sehari-Hari

Pengantar Penulis
Segala puji milik Allah, yang telah berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab: 21)
Segala puji bagi Allah yang telah mengutus untuk kita utusan terbaiknya, menurunkan untuk kita kitab teristimewanya, memunculkan para sahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka dari kalangan para pendahulu (salaf) sebagai pengusung dua wahyu, mereka yang telah mentransmisikan keduanya secara verbal dan sejarah mencatat jasa-jasa mereka. Mereka adalah sebaik-baik pengusung untuk sebaik-baik yang diusung. Kemudian datang penerus-penerus mereka yang gemilang, yang mengungkapkan kecintaan mereka kepada Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Shalawat dan salam mudah-mudahan tercurah kepada manusia terbaik, sosok yang sunnahnya tersebar ke seantero makhluk, yang terbaik dalam menunaikan shalat, puasa dan berdoa, yang terbaik dalam menerangkan jalan hidayah untuk umatnya. Beliau telah meninggalkan mereka diatas petunjuk yang jelas, siapa saja yang mendengar dan memahaminya akan selamat, semoga Allah mencurahkan shawalat kepadanya, keluarganya, dan siapa saja yang mengikuti petunjuknya hingga hari kiamat. Amma ba’du: Pembaca yang budiman,
Aku goreskan dalam lembar-lembar ini sunnah-sunnah dan ibadah, sunnah-sunnah yang diwariskannya, ragam bentuk ibadah yang sebagiannya diketahui, sebagiannya tidak, dan sebagiannya lagi telah ditinggalkan. Sungguh ia adalah karunia Allah teruntuk umat ini, untuk semakin menambah ketaatan mereka. Ia adalah hadiah, karena padanya terkandung berlipat pahala yang tidak Allah karuniakan kepada umat-umat terdahulu. Khusus Allah berikan hanya untuk umat ini. Allah simpan padanya aneka manfaat yang agung untuk siapa saja yang bersegera kepadanya. Ia adalah karunia yang tinggi keutamaannya, agung kedudukannya dan besar manfaatnya. Seorang ikhwah yang mulia telah menyarankan kepadaku untuk menuliskannya –semoga Allah membalas kebaikannya.
Ada dua faktor pendorong bagiku untuk menulis buku ini,
Faktor pertama: Sungguh tidak nyaman didengar oleh telinga setiap muslim, membuat sedih hati setiap muwahhid (ahli tauhid) dan membuat air mata para pecinta kekasih Allah, Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam berlinang saat beliau dihina. Sejumlah orang telah mengolok-olok beliau dengan membuat karikatur penghinaan, dan kita masih saja mendengar kasus seperti itu di beberapa negeri. Tidak mengherankan memang. Mereka semua mengikuti orang-orang kafir Quraisy dahulu yang juga telah menyakiti dan mengolok-ngolok beliau. Para sahabat pun mendapat perlakukan buruk yang sama dari orang-orang yang sama. Membela kehormatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bagian dari kewajiban agama atas setiap umat, hingga kehormatan itu dapat dikembalikan.
Diantara bentuk pembelaan yang terpenting adalah, membela sunnahnya dan menampilkan keindahan akhlak beliau yang telah tercemar oleh orang-orang Barat, mengenalkan ajaran beliau dan mengajak untuk menerapkannya dengan menyebarkan buku- buku yang berkaitan dengannya. Orang yang paling baik dalam merealisasikan ajarannya dan orang yang bersegera dalam melaksanakan sunnahnya adalah para penganut agama beliau yang sebenarnya. Karena orang yang membela kehormatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perkataannya, seharusnya ia pun menjadi orang yang paling bersemangat dalam melaksanakan perintah-perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta ajarannya dan menunaikan sunnah-sunnahnya dalam perilakunya. Ia sepatutnya menghidupkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam pribadi dan masyarakatnya, di lingkungan keluarga, dihadapan anak-anak, para murid dan saudara-saudaranya.
Faktor kedua: realita kita dewasa ini memperlihatkan sikap apriori terhadap sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pelaksanaannya, dengan anggapan bahwa sunnah- sunnah tersebut hanya termasuk perkara yang jika dikerjakan mendatangkan pahala dan jika tidak dikerjakan tidak akan mendatangkan siksa. Pembaca yang budiman, jika Anda mengamati sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Anda tidak akan mendapati para sahabat –menurut kebiasaan mereka- membeda-bedakan antara yang wajib dan yang sunnah dalam urusan bertanya dan pelaksanaannya. Mereka selalu bersemangat dalam kebaikan dan sangat menyesal jika terlewat dari mereka suatu kebaikan walaupun hanya sekedar sunnah. Sementara saat ini, Anda dapat saksikan banyak orang yang mengenal macam-macam kebaikan yang agung, namun mereka enggan melaksanakannya walaupun hanya satu kali. Bahkan, mungkin Anda akan melihat seseorang yang berpenampilan shaleh dan istiqomah, namun ia kerap menelantarkan sunnah. Anda tidak menyaksikan sunnah Nabi nampak pada pribadi, akhlak, pergaulan dan ibadahnya. Hal ini juga tidak jarang terjadi pada sebagian para penuntut ilmu. Anda melihat mereka terbelakang dalam amal dan kesungguhannya dalam sunnah, padahal ia mengetahui bermacam-macam permasalahan ilmiah dan sunnah nabawiyyah. Jika salaf mendefinisikan ilmu sebagai: rasa takut (khasyyah) yang melahirkan semangat untuk menambah ketaatan dan ibadah, maka, sejauh apa dampak ilmu dan wawasan kita tentang perbedaan pendapat, dalil- dalil yang banyak atas sejumlah permasalahan ilmiah dalam pelaksanaan sunnah-sunnah dan ibadat?
Salah seorang diantara mereka berkata kepada temannya yang terus memperbanyak ilmu namun tidak beramal, “Hei, jika engkau hanya menghabiskan umurmu untuk mengumpulkan senjata, kapan engkau akan berperang?”
Salaf dahulu mencela orang-orang yang berilmu namun tidak beramal, orang yang terus mengumpulkan ilmu tanpa amal. Tatkala para penuntut ilmu hadis berpagi-pagi mendatangi al Auza’i, ia melihat ke arah mereka. Lalu berkata, “Betapa banyak orang yang bersemangat, giat dan rajin, namun ia tidak mendapat manfaat dan tidak pula memberi manfaat.” Tatkala al Khathib al Baghdady rahimahullah menyaksikan banyaknya orang yang giat dalam meriwayatkan hadis dan menghapalnya, namun mereka sedikit dalam beramal, beliau menulis sebuah buku yang sangat berharga berjudul, “Iqtidhaa al ‘Ilmi al ‘Amal.” (Ilmu menuntut Amal)Itulah kondisi kebanyakan dari kita. Tentu aku tidak mengingkari, di zaman kita ini ada juga orang-orang yang gemilang. Namun fenomena ketidakpedulian terhadap sunnah sangat dominan. Saudaraku, renungkanlah beberapa contoh orang-orang generasi pertama yang dekat dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta orang-orang yang mengikuti mereka berikut ini. Contoh-contohnya sangat banyak dalam hal ini, akan aku sebutkan sebagiannya dalam pendahuluan, mudah-mudahan ia dapat membangkitkan semangatku dan semangatmu dalam melaksanakan sunnah.
Aku memohon kepada Allah ta’ala dengan nama-nama- Nya yang baik dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, agar Dia berkenan menjadikanku dan Anda termasuk orang-orang yang meniti sunnah, berpegang teguh kepadanya dalam perkataan dan perbuatan, serta dalam seluruh keadaan. Sesungguhnya Dia kuasa untuk itu, shalawat, salam dan keberkahan mudah-mudahan tercurah kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutnya hingga hari akhir.
Yang Faqir kepada Ampunan Rabbnya
Abdullah bin Hamud al Furaih
Rafha, Saudi Arabia

E- mail: forih@hotmail.com
***********
Ebook ini kami dapatkan dari halaman facebook Al Ustadz Abu Khaleed Resa Gunarsa, Lc.  Hafidhahullah



Link Download : https://islamhouse.com/id/books/810571/
Link Alternatif (Google Drive) : https://goo.gl/rPtmcP

Semoga Bermanfaat,

Read More