Sabtu, 02 Desember 2017

Download Ebook Hadiah Indah Penjelasan Tentang Sunnah-Sunnah Sehari-Hari

Pengantar Penulis
Segala puji milik Allah, yang telah berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab: 21)
Segala puji bagi Allah yang telah mengutus untuk kita utusan terbaiknya, menurunkan untuk kita kitab teristimewanya, memunculkan para sahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka dari kalangan para pendahulu (salaf) sebagai pengusung dua wahyu, mereka yang telah mentransmisikan keduanya secara verbal dan sejarah mencatat jasa-jasa mereka. Mereka adalah sebaik-baik pengusung untuk sebaik-baik yang diusung. Kemudian datang penerus-penerus mereka yang gemilang, yang mengungkapkan kecintaan mereka kepada Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Shalawat dan salam mudah-mudahan tercurah kepada manusia terbaik, sosok yang sunnahnya tersebar ke seantero makhluk, yang terbaik dalam menunaikan shalat, puasa dan berdoa, yang terbaik dalam menerangkan jalan hidayah untuk umatnya. Beliau telah meninggalkan mereka diatas petunjuk yang jelas, siapa saja yang mendengar dan memahaminya akan selamat, semoga Allah mencurahkan shawalat kepadanya, keluarganya, dan siapa saja yang mengikuti petunjuknya hingga hari kiamat. Amma ba’du: Pembaca yang budiman,
Aku goreskan dalam lembar-lembar ini sunnah-sunnah dan ibadah, sunnah-sunnah yang diwariskannya, ragam bentuk ibadah yang sebagiannya diketahui, sebagiannya tidak, dan sebagiannya lagi telah ditinggalkan. Sungguh ia adalah karunia Allah teruntuk umat ini, untuk semakin menambah ketaatan mereka. Ia adalah hadiah, karena padanya terkandung berlipat pahala yang tidak Allah karuniakan kepada umat-umat terdahulu. Khusus Allah berikan hanya untuk umat ini. Allah simpan padanya aneka manfaat yang agung untuk siapa saja yang bersegera kepadanya. Ia adalah karunia yang tinggi keutamaannya, agung kedudukannya dan besar manfaatnya. Seorang ikhwah yang mulia telah menyarankan kepadaku untuk menuliskannya –semoga Allah membalas kebaikannya.
Ada dua faktor pendorong bagiku untuk menulis buku ini,
Faktor pertama: Sungguh tidak nyaman didengar oleh telinga setiap muslim, membuat sedih hati setiap muwahhid (ahli tauhid) dan membuat air mata para pecinta kekasih Allah, Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam berlinang saat beliau dihina. Sejumlah orang telah mengolok-olok beliau dengan membuat karikatur penghinaan, dan kita masih saja mendengar kasus seperti itu di beberapa negeri. Tidak mengherankan memang. Mereka semua mengikuti orang-orang kafir Quraisy dahulu yang juga telah menyakiti dan mengolok-ngolok beliau. Para sahabat pun mendapat perlakukan buruk yang sama dari orang-orang yang sama. Membela kehormatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bagian dari kewajiban agama atas setiap umat, hingga kehormatan itu dapat dikembalikan.
Diantara bentuk pembelaan yang terpenting adalah, membela sunnahnya dan menampilkan keindahan akhlak beliau yang telah tercemar oleh orang-orang Barat, mengenalkan ajaran beliau dan mengajak untuk menerapkannya dengan menyebarkan buku- buku yang berkaitan dengannya. Orang yang paling baik dalam merealisasikan ajarannya dan orang yang bersegera dalam melaksanakan sunnahnya adalah para penganut agama beliau yang sebenarnya. Karena orang yang membela kehormatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perkataannya, seharusnya ia pun menjadi orang yang paling bersemangat dalam melaksanakan perintah-perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta ajarannya dan menunaikan sunnah-sunnahnya dalam perilakunya. Ia sepatutnya menghidupkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam pribadi dan masyarakatnya, di lingkungan keluarga, dihadapan anak-anak, para murid dan saudara-saudaranya.
Faktor kedua: realita kita dewasa ini memperlihatkan sikap apriori terhadap sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pelaksanaannya, dengan anggapan bahwa sunnah- sunnah tersebut hanya termasuk perkara yang jika dikerjakan mendatangkan pahala dan jika tidak dikerjakan tidak akan mendatangkan siksa. Pembaca yang budiman, jika Anda mengamati sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Anda tidak akan mendapati para sahabat –menurut kebiasaan mereka- membeda-bedakan antara yang wajib dan yang sunnah dalam urusan bertanya dan pelaksanaannya. Mereka selalu bersemangat dalam kebaikan dan sangat menyesal jika terlewat dari mereka suatu kebaikan walaupun hanya sekedar sunnah. Sementara saat ini, Anda dapat saksikan banyak orang yang mengenal macam-macam kebaikan yang agung, namun mereka enggan melaksanakannya walaupun hanya satu kali. Bahkan, mungkin Anda akan melihat seseorang yang berpenampilan shaleh dan istiqomah, namun ia kerap menelantarkan sunnah. Anda tidak menyaksikan sunnah Nabi nampak pada pribadi, akhlak, pergaulan dan ibadahnya. Hal ini juga tidak jarang terjadi pada sebagian para penuntut ilmu. Anda melihat mereka terbelakang dalam amal dan kesungguhannya dalam sunnah, padahal ia mengetahui bermacam-macam permasalahan ilmiah dan sunnah nabawiyyah. Jika salaf mendefinisikan ilmu sebagai: rasa takut (khasyyah) yang melahirkan semangat untuk menambah ketaatan dan ibadah, maka, sejauh apa dampak ilmu dan wawasan kita tentang perbedaan pendapat, dalil- dalil yang banyak atas sejumlah permasalahan ilmiah dalam pelaksanaan sunnah-sunnah dan ibadat?
Salah seorang diantara mereka berkata kepada temannya yang terus memperbanyak ilmu namun tidak beramal, “Hei, jika engkau hanya menghabiskan umurmu untuk mengumpulkan senjata, kapan engkau akan berperang?”
Salaf dahulu mencela orang-orang yang berilmu namun tidak beramal, orang yang terus mengumpulkan ilmu tanpa amal. Tatkala para penuntut ilmu hadis berpagi-pagi mendatangi al Auza’i, ia melihat ke arah mereka. Lalu berkata, “Betapa banyak orang yang bersemangat, giat dan rajin, namun ia tidak mendapat manfaat dan tidak pula memberi manfaat.” Tatkala al Khathib al Baghdady rahimahullah menyaksikan banyaknya orang yang giat dalam meriwayatkan hadis dan menghapalnya, namun mereka sedikit dalam beramal, beliau menulis sebuah buku yang sangat berharga berjudul, “Iqtidhaa al ‘Ilmi al ‘Amal.” (Ilmu menuntut Amal)Itulah kondisi kebanyakan dari kita. Tentu aku tidak mengingkari, di zaman kita ini ada juga orang-orang yang gemilang. Namun fenomena ketidakpedulian terhadap sunnah sangat dominan. Saudaraku, renungkanlah beberapa contoh orang-orang generasi pertama yang dekat dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta orang-orang yang mengikuti mereka berikut ini. Contoh-contohnya sangat banyak dalam hal ini, akan aku sebutkan sebagiannya dalam pendahuluan, mudah-mudahan ia dapat membangkitkan semangatku dan semangatmu dalam melaksanakan sunnah.
Aku memohon kepada Allah ta’ala dengan nama-nama- Nya yang baik dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, agar Dia berkenan menjadikanku dan Anda termasuk orang-orang yang meniti sunnah, berpegang teguh kepadanya dalam perkataan dan perbuatan, serta dalam seluruh keadaan. Sesungguhnya Dia kuasa untuk itu, shalawat, salam dan keberkahan mudah-mudahan tercurah kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutnya hingga hari akhir.
Yang Faqir kepada Ampunan Rabbnya
Abdullah bin Hamud al Furaih
Rafha, Saudi Arabia

E- mail: forih@hotmail.com
***********
Ebook ini kami dapatkan dari halaman facebook Al Ustadz Abu Khaleed Resa Gunarsa, Lc.  Hafidhahullah



Link Download : https://islamhouse.com/id/books/810571/
Link Alternatif (Google Drive) : https://goo.gl/rPtmcP

Semoga Bermanfaat,


EmoticonEmoticon