Selasa, 24 Januari 2017

Cara mendownload Murottal Al Qur'an Secara Otomatis di Quranicudio.com


Beberapa waktu yang lalu ketika ingin mendownload Murottal Al Qur'an, saya mendapatkan situs yang lengkap menyajikan Murottal Al Qur'an adalah quranicaudio.com , disamping lengkap kualitas murottal nya juga bagus. Kita juga bisa memutar Murottal langsung via websitenya. Website Murottal terbaik untuk saat ini menurut saya. 
Disana kita bisa memilih Qari', kemudian memutar Murottal Qur'an atau mendownloadnya. 
Untuk mendownload nya kita tinggal klik icon download pada tiap Surah nya, akan tetapi jika kita ingin mendownload semua Surah, yaitu 114 Surah (30 Juz) , maka kita harus klik satu persatu tombol download di tiap Surah, atau kita bisa masuk ke directory downloadnya kemudian kita save as satu persatu file nya. Jika kita ingin secara otomatis kita bisa menggunakan aplikasi xtreme download manager (XDM).
Download aplikasi XDM dan Install, 
Kemudian pilih Qari' yang kita ingin download Murottalnya, kemudian pada Surah Al-Fatihah klik kanan pada link download kemudian pilih copy link address.Masuk pada Aplikasi XDM, kemudian pilih menu file, kemudian pilih Batch Download.
Setelah itu paste kan link yang tadi kita copy 

Kemudian sesuaikan pada Address kita masukkan tanda * (asterix) setelah angka 0 , kemudian pada Number, from kita isi 1 dan pada to kita isi 99, sehingga nantinya akan mendownload dari Surah 001 sampai Surah 099. Pada Wilcard Size kita isikan angka 2. Lihat pada First URL, Second URL dan Last URL untuk mengetahui apakah link download yang kita atur sudah benar. Jika sudah kemudian klik OK 

Selanjutnya Klik Check All seperti gambar diatas,  dan centang pada Start Queue Processing, kemudian klik OK untuk memulai download. Tunggu sampai download selesai.

Kemudian kita ulangi langkah berikutnya  untuk mendownload Surah 100 sampai Surah 114 seperti pada gambar dibawah ini.


Sebelum asterix kita ganti angka 0 dengan angka 1, kemudian pada From kita isikan 0 dan pada To kita isikan 14. Sehingga akan mendownload Surah 100 - 114. Klik OK dan tunggu sampai Selesai.

Semoga Bermanfaat,
Read More

Selasa, 03 Januari 2017

Kenikmatan Mengalahkan Hawa Nafsu


Aku perhatikan kecenderungan jiwa ini pada syahwat (hawa nafsu) terlalu berlebihan, sampai-sampai bila jiwa ini telah condong paday, jiwa ini juga akan membawa hati, akal dan pikiran ikut condong padanya, sehingga hampir-hampir seseorang tidak bisa mengambil manfaat apapun dari nasihat (yang diberikan kepadanya)

Suatu hari aku menyeru jiwaku yang telah cenderung secara total pada hawa nafsunya, "Celaka engkau! Berhentilah sejenak! Biarkan aku bicara padamu beberapa kata, kemudian (setelah itu) lakukanlah apapun yang ingin engkau lakukan!"

Jiwaku menjawab, "Katakanlah, aku akan mendengarnya."

Aku berkata, "Memang telah nyata bahwa kecenderunganmu pada hawa nafsu yang diperbolehkansangat sedikit. Adapun kecenderunganmu paling besar adalah pada hal-hal yang diharamkan. Aku akan mengungkapkan kepadamu tentang dua hal, sehingga mungkin saja engkau akan melihat dua hal yang manis sebagai dua hal yang pahit.

Adapun hawa nafsu yang diperbolehkan, maka itu bebas untukmu. Akan tetapi jalan untuk menitinya itu berat, karena kadang harta tak mampu unuk bisa menggapainya, upaya pun kadang tidak bisa menghasilkan sebagian besar darinya, dan waktu yang begitu berharga menjadi hilang dikarekannya. Lalu juga hati menjadi tersibukkan dengannya, pada waktu upaya untuk meraihnya, dan pada saat berhasil meraihnya, serta (menjadi tersibukkan juga) dengan perasaan khawatir tidak bisa meraihnya. Kemudian hal itupun akan dikacaukan dengan kekurangan yang ada padanya, yang sudah tak samar lagi bagi setiap mumayyiz (anak yang sudah bisa membedakan baik dan buruk); Bila itu adalah makanan, maka kekenyangan akan menimbulkan berbagai penyakit. Bila itu adalah sosok seseorang, maka (kekurangannya adalah akan ada) rasa bosan, perpisahan atau perangainya yang buruk. Kemudian persetubuhan yang paling banyak membuat badan lemah...dan hal-hal lainnya yang sangat panjang penjabarannya.

Adapun hal-hal yang diharamkan, maka itu mencakup hal-hal yang telah kami isyaratkan (di atas) berupa hal-hal yang dibolehkan, ditambah lagi bahwa keinginan yang diharamkan itu merupakan aib bagi kehormatan seseorang, dan merupakan hal-hal yang diduga kuat akan mendatangkan hukuman di dunia dan mempertontonkan skandal aibnya. Pun di sana ada ancaman kelak di akhirat. Kemudian ada juga rasa gelisah setiap kali orang yang bertaubat mengingatnya"

Dalam hal kuatnya upaya mengalahkan hawa nafsu terdapat kelezatan yang melebihi semua bentuk kelezatan lainnya.Tidaklah kau llhat bagaimana orang yang dikalahkan hawa nafsu menjadi hina dikarenakan dia dibuatnya menjadi pecundang? Berbeda dengan orang yang berhasil mengalahkan hawa nafsu, dia menjadi orang yang hatinya kuat dan mulia, karena dia telah mengalahkan (menang).

Maka berhati-hatilah... jangan sampa1 mesihat. hal yang diinginkan dari sisi keindahannya semata, sebagaimana seorang pencuri melihat lezatnya mengambll harta dari tempat penyimpanannya yang terjaga, dan tidak melihat hukum potong tangan dengan mata pikirannya.

Hendaknya manusia membuka mata hatinya untuk merenungkan akibat kesudahan perbuatannya, berubahnya
kelezatan menjadi kekeruhan, dan berbalik tidak lagi  menjadi suatu yang lezat, baik karena menjemukan, atau karena penyakit lainnya, atau karena kelezatan ini terputus dengan terputusnya hubungan dengan yang dikasihi; sehingga maksiat yang pertama bagaikan satu suapan yang dimakan orang yang lapar, ia tidak bisa menghilangkan perihnya rasa lapar, bahkan menjadikannya terus menginginkan makanan.

Hendaknya manusia mengingat-ingat lezatnya mengalahkan hawa nafsu, dengan merenungkan berbagai faidah kesabaran atasnya, karena barangsiapa yang diberi taufik untuk bisa melakukannya, maka keselamatan dirinya begitu dekat.

- Shaidul Khatir, Ibnul Jauzi, Darul Haq -
Read More

Minggu, 01 Januari 2017

Rahasia-rahasia yang Terpendam dalam Jiwa


Aku perhatikan tentang dalil-dalil adanya Allah Yang Maha Haq, maka aku mendapatkannya lebih banyak dari butiran pasir. Dan aku perhatikan yang paling menakjubkan adalah :

Bahwa kadang manusia menyembunyikan hal yang tidak diridhai oleh Allah, lalu Allah menampakkannya pada dirinya meski setelah berlalu beberapa waktu. Atau Allah menjadikan lidah-lidah (manusia) menuturkannya meskipun orang-orang tidak menyaksikannya. Terkadang juga menjadikan si pelaku tertimpa suatu penyakit, di mana Allah mempermalukan si pelaku dengan penyakit di hadapan orang-orang. Sehingga ini menjadi jawaban dari setiap dosa yang dia sembunyikan. Hal itu agar orang tahu bahwa terdapat Dzat yang membalas atas suatu dosa. Tak ada tirai atau penghalang yang bisa menutupi dari takdir dan kuasaNya. Tak ada amal yang sia-sia di sisiNya.

Demikian pula seseorang menyembunyikan ketaatan, maka itu pun akan tampak pula. Orang-orang akan memperbincangkannya dan bahkan (memperbincangkan) lebih dari itu, sampai-sampai mereka pun tak tahu apakah orang itu punya dosa, dan mereka tak ményebut orang  itu, kecuali dengan berbagai kebaikan; agar diketahui bahwa disana ada Rabb yang tidak menyia-nyiakan amal seseorang. Hati manusia benar-benar tahu keadaan seseorang dan mencintainya atau antipati dan mencelanya, atau menyanjungnya sesuai dengan ikatan yang terjalin antara orang tersebut dengan Allah,  karena Allah akan mencukupinya dari segala keresahan, dan menolak darinya setiap keburukan. 

Dan tidaklah seseorang memperbaiki hubungan antara dirinya dengan sesama makhluk tanpa memperhatikan (hubungannya dengan) Allah yang Haq melainkan maksud yang ingin dia capai akan berbalik, dan orang yang memujinya akan berbalik menjadi mencercanya.

- Shaidul Khatir, Ibnul Jauzi, Darul Haq -
Read More

Manisnya Ketaatan, Sialnya Kemaksiatan


Segala hal yang Allah ciptakan di dunia merupakan bentuk contoh dari apa yang ada di akhirat. Dan segala hal yang terjadi di dalamnya merupakan percontohan dari apa yang terjadi di akhirat.

Adapun yang terjadi di dunia maka setiap orang yang zhalim akan dikenai siksa di dunia atas kezhalimannya sebelum dia disiksa di akhirat kelak. Demikian pula setiap orang yang berbuat dosa. Ini adalah makna dari Firman Allah (yang artinya) :

"Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu." (An-Nisa`: 123).

Mungkin saja seorang yang berbuat maksiat melihat badan dan hartanya selamat, lalu dia menyangka tak ada hukuman (atas perbuatannya). Padahal kelengahannya dari hukuman yang ditimpakan padanya adalah hukuman.

Orang-orang bijak berkata, “Maksiat setelah maksiat merupakan hukuman dari maksiat. Sedangkan kebaikan setelah kebaikan merupakan pahala dari kebaikan."
Bisa juga bahwa hukuman yang disegerakan di dunia itu bersifat maknawi (bukan hukuman yang bersifat materi atau fisik). Sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama Bani Israil, "Wahai Tuhanku! Berapa banyak aku bermaksiat kepadaMu dan Engkau tidak menghukumku!" Maka dijawab, “Berapa banyak Aku menghukummu, namun engkau tidak tahu! Bukankah Aku telah menghalangimu dari nikmatnya bermunajat kepadaKu?"

Maka barangsiapa yang mencermati jenis hukuman ini, niscaya dia dapatkan jenis hukuman ini sudah menantinya. Berapa banyak orang yang menjadikan pandangannya liar, lalu Allah mengharamkan mata hatinya untuk bisa mengambil pelajaran. Atau (orang Yang tiak mengendalikan) lidahnya, lalu Allah menghalanginya dari kejernihan hatinya. atau lebih mendahulukan hal yang syubhat dalam makanannya, lalu hatinya menjadi gelap, tak bisa mendirikan shalat malam, dan terhalang dari manisnya munajat..., dan hal-hal lain yang serupa, Ini adalah hal yang diketahui oleh orang yang biasa mengintrospeksi dirinya (muhasabah).

Sebaliknya, orang yang bertakwa kepada Allah akan segera mendapatkan balasan yang baik di dunia atas takwanya,adapun bentuk balasan setimpal yang jelas dalam bentuk lahiriah, jarang sekali hal itu tertahan. Di antaranya adalah Sabda Nabi Shollalahu'alaihi wasallam

“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar terhalang dari rizki dikarenakan dosa yang dia perbuat." [HR.Ahmad no. 21881, Ibnu Majah no. 4022]

Hal seperti ini bila direnungkan oleh orang yang punya mata hati, dia akan melihat balasan dan memahaminya. Sebagaimana yang dikatakan oleh al-Fudhail, "Sungguh, aku benar-benar bermaksiat kepada Allah, lalu aku mengetahui hal itu tercermin dalam perilaku tungganganku dan perangai budak perempuanku."
Dan dari Abu Utsman an-Naisaburi, bahwa tali sandalnya putus kala dia pergi ke shalat Jum'at. Maka dia terhalang beberapa saat untuk memperbaikinya, kemudian dia berkata, “Tali sandalku tidaklah putus kecuali karena aku tidak mandi untuk shalat Jum'at."

Sekiranya seseorang meninggalkan suatu maksiat karena Allah, pastilah dia akan melihat buah hasilnya. Demikian pula bila dia melakukan ketaatan.

- Shaidul Khatir, Ibnul Jauzi, Darul Haq -
Read More