Sabtu, 20 Januari 2018

Keletihan pasti kan hilang


Syaikh Ali Musthafa Thantawi –rahimahullah- pernah ditanya tentang kata bijak terindah yang pernah dibacanya, beliau menjawab “Aku telah membaca lebih dari 70 tahun, namun aku belum pernah menemukan kata bijak paling indah seperti apa yang diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi –rahimahullah-“
“Sesungguhnya keletihan karena melakukan ketaatan akan hilang dan tinggallah pahalanya. Dan kenikmatan melakukan maksiat akan hilang dan tinggallah hukumannya”
Teruslah bersama Allah SWT dan jangan pedulikan (yang lain). Tengadakan tanganmu kepada-Nya dikegelapan malam, sembari berdoa : Ya Rabb... Dunia ini takkan indah kecuali dengan mengingat-Mu. Akhirat takkan indah kecuali dengan ampunan-Mu. Dan surgapun takkan indah kecuali dengan melihat wajah-Mu.
Lapangkan dadamu...
Maafkan orang yang bersalah padamu...
Biarkan urusan makhluk untuk sang Khaliq, karena kita dan mereka akan pergi meninggalkan dunia ini...
Lakukanlah kebaikan walaupun engkau menganggapnya sepele, karena sesungguhnya engkau tidak tahu kebaikan mana yang akan memasukanmu kedalam surga-Nya...
Catatan :
Benar, kita tak pernah tahu amalan mana yang akan membawa kita ke surga. Mungkin saja amalan itu adalah sedekah yang kita berikan begitu saja. Atau dua rakaat shalat yang pernah kita lakukan dengan penuh khusyuk. Atau senyum tulus yang pernah kita torehkan untuk saudara kita. Atau kemaafan yang kita beri sebelum merebahkan badan dimalam hari. Atau karena untaian tasbih yang pernah terucap disaat lelah. Atau bisa jadi karena setitik air mata yang menetes karena penyesalan terhadap dosa yang pernah dilakukan dimassa silam.
Entahlah...
Yang jelas jangan pernah meremehkan amal shaleh sekecil apapun amalan itu, karena dahulu seorang pelacur masuk surga hanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah berpesan kepada Jabir bi Sulaim “Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikitpun, walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang berseri-seri. Sungguh amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.”
Madinah, 02-05-1437 H
ACT El-Gharantaly


sumber : http://dresrosa.blogspot.co.id/2016/04/kata-bijak-terindah.html
Read More

Perjalanan Abu Sa'ad As-Samman Ar-Razi untuk Mencari llmu


Al-Hafizh Al-Faqih Abu Sa'ad As-Samman Ar-Razi (wafat tahun 445 H) adalah salah seorang pakar hadits, nasab, fiqih, qira'ah dan ulama besar. Dia berkeliling dunia dari timur hingga barat dengan ke dua kakinya. Dia memiliki syaikh sebanyak 3600 orang. Semoga Allah merahmatinya.

Al-Hafizh Al-Qurasyi berkata di dalam Al-Jawahirur Mudhiyah li Thabaqatil Hanafiyyah, l : 156, tentang biografi Abu Sa'ad As-Samman Isma'il bin Ali bin Al-Husain bin Zanjuwaih Ar-Razi, seorang hafizh, alim, ahli fiqih, dan ahli hadits, "Dia adalah seorang imam tanpa tanding di bidang qiraat, hadits, ilmu tentang para perawi, nasab, faraidh, berhitung, dan bidang lainnya. Dia adalah pakar di bidang fiqih Abu Hanifah, serta pengetahuan tentang khilaf antara Abu Hanifah dan Asy—Syafi'i, semoga Allah meridhai keduanya. Dia telah berhaji dan mengunjungi kubur Nabi Shalallahu alaihi wassalam. Dia masuk lrak -negerinya adalah Ray di Khurasan, kota sebelah timur yang paling jauh-. Dia berkeliling di Syam, Hijaz dan kota-kota di Maghrib. Dia bertemu dengan orang-orang dan para syaikh. Dia membacakan ilmu kepada 3600 syaikh di zamannya. Di akhir umurnya, dia berangkat ke Ashbahan untuk mencari hadits. Dia berkata, ”Barangsiapa yang tidak menulis hadits, maka dia tidak meneguk manisnya Islam.”

Dia dipuji dengan ungkapan, ”Dia adalah seorang ahli zuhud, berhati bersih, rajin shalat malam, rajin berpuasa, dan memiliki sifat qana'ah. Selama 74 tahun dia tidak pernah memasukkan jarinya ke piring orang lain. Tidak ada seorang pun yang berjasa kepadanya, dan tidak ada pula yang berbuat kebaikan kepadanya  saat bermukim maupun saat bepergian."

Buku yang dia kumpulkan selama hidupnya, dia tinggalkan sebagai wakaf kepada kaum muslimin. Dia adalah sejarah pada zamannya, sisa para salaf dan khalaf. Dia wafat dengan senyum, seperti orang yang pergi jauh lalu pulang kepada keluarganya, dan seperti seorang hamba yang pulang kepada tuannya. Ia wafat di Ray, tanah airnya, pada tahun 445 H. Semoga Allah merahmatinya.


Diambil dari buku Kisah Hidup Ulama Rabbani karya Syaikh Abdul Fattah, Hal.196-197
Read More

Manajemen Waktu Asy-Syamsul Ashbahani



Disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab Ad-Durarul Kaminah (VI:85) tentang biografi Imam Al-Allamah Syamsuddin Abu Ats-Tsana' Al-Ashbahani (Mahmud bin Abdurrahman bin Ahmad) , tokoh Mahdzab Syafi'i, pakar ilmu ushul fikih, fikih dan tafsir , lahir di Ashbahan tahun 674 H dan wafat di kairo tahun 759 H. Dikatakan, "Beliau giat mempelajari ilmu di negerinya, sampai beliau mahir dan menguasai sejumlah disiplin ilmu. Setelah itu beliau pergi ke Damaskus setelah mengunjungi Al-Quds pada bulan shafar tahun 725 H. Keutamaan ilmu beliau dirasakan langsung oleh penduduk disana. Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah pernah mendengarkan wejangannya. Beliau berusaha sungguh-sungguh untuk menghormatinya. Suatu saat Ibnu Taimiyyah pernah berujar, 'Diamlah kalian, hingga kita mendengar ucapan orang yang memiliki keutamaan ini., tidak ada orang semulia beliau yang memasuki negeri kita', kemudian, Al-Ashbahani pindah ke Kairo dan beliau wafat disana."

Apa yang diceritakan tentang beliau ini menunjukkan antusiasnya terhadap ilmu dan 'pelit' nya beliau untuk menyia-nyiakan waktunya. Sebagian sahabatnya pernah menuturkan, bahwa beliau sangat menghindari makan yang banyak, yang tentunya akan butuh banyak minum, dan selanjutnya akan butuh banyak waktu untuk masuk WC. Sehingga waktu pun banyak yang terbuang. Lihatlah! Bagaimana mahalnya waktu dalam pandangan seorang imam yang mulia ini. Dan, tidaklah waktu itu mahal bagi beliau melainkan karena betapa mahalnya ilmu tersebut. Maka, alangkah cemerlangnya pandangan beliau.


Diambil dari buku Kisah Hidup Ulama Rabbani, Karya Syaikh Abdul Fattah Halaman 106-107.
Read More

Kisah Abu Bakr Khuwaqir al-Hanbali


Biografi beliau bisa disimak di Tsabat al-Atsbat asy-Syahirah, Siyar wa Tarajim (hal. 22), Faidh al-Malik al-Wahhab al-Muta’ali (hal. 2052-2061), Risalah Min A’lam Ulama Mekkah al-Mukaramah asy-Syaikh Abu Bakr bin Muhammad Arif Khuwaqir – Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah Abdul Muhsin dan lain-lain. 

"DNA Hanbali" mengalir dalam tubuhnya, Pengajar Mazhab Hanbali di Masjidil Harom pada masanya ini dikenal keras terhadap ahli bid’ah dan khurafat, sampai dua kali beliau di penjara karena dakwahnya (18 bulan dan 70 bulan) oleh penguasa saat itu, yaitu Syarif Husain bin Ali, dengan tuduhan wahabi. Anaknya sendiri meninggal di penjara itu dan dibiarkan membusuk dihadapan Syaikh sendiri. Itu terjadi pada masa sebelum berkuasanya Malik Abdul Aziz atas Hijaz. Pasukan Malik Abdul Aziz sendiri -yang dipimpin panglima asy-Syarif Khalid bin Luwai al-Hasani- yang mengeluarkan beliau dari penjara, yakni penjara khusus ulama-ulama yang tidak disukai penguasa Hijaz sebelumnya.

Ada kisah menarik tentang pembebasannya ini, suatu hari Syaikh Khuwaqir mengimami shalat shubuh dipenjara dengan wajah berseri-seri, murid-muridnya dan orang-orang yang berada dipenjara bersama beliau merasa heran, mereka pun bertanya karena sebab apa beliau begitu ceria di pagi itu. Beliau pun bercerita tentang mimpinya tadi malam dimana beliau menyaksikan sekelompok orang yang datang memenuhi penjara lalu melepas rantai besi yang mengikat kaki para tahanan, serta membebaskan mereka semuanya. Dalam mimpinya, syaikh bertanya tentang identitas orang-orang yang membebaskan mereka tersebut. Kemudian ada yang menjawab, bahwa mereka adalah sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. 

Syaikh bersama orang-orang yang ada dipenjara itu tidaklah mengetahui apa yang terjadi diluar sana, suatu peristiwa yang besar. Yakni datangnya pasukan Malik Abdul Aziz pimpinan Syarif Khalid bin Luwai al-Hasani membebaskan Mekkah, dan benar saja seperti dalam mimpi Syaikh tadi, telah masuk secara tiba-tiba sejumlah orang laki-laki Pasukan Malik Abdul Aziz ke dalam penjara itu, salah satu di antara mereka ada yang mengenali Syakh Khuwaqir, maka berteriaklah dia meneriakkan nama Syaikh : “Ya Khuwaqir, ya Khuwaqir !!!”. Mereka pun mengeluarkan dari penjara itu, Syaikh dan orang-orang yang bersamanya.

Read More

Rabu, 17 Januari 2018

Kiat sukses dalam membaca kitab


Banyak keluhan dari para penuntut ilmu, mengenai susahnya merekam faidah yang terdapat dalam kitab yang telah dia baca. Biasanya, satu kitab telah usai dibaca, namun faidah-faidah yang ia temui di dalam kitab, seperti lalu begitu saja.
Berangkat dari keluhan ini, penulis -dengan memohon taufik kepada Allah- berusaha berbagi sedikit tentang tips sukses membaca buku atau menela’ah kitab para ulama.Yang kami sajikan dari salah satu buah karya seorang ulama rabbani; Syaikh Abdulaziz Muhammad bin Abdullah As-Sadhan hafidhzohullah. Agar membaca menjadi lebih menyenangkan, dan benar-benar menjadi jendela ilmu.
Semoga bermanfaat…

Macam-Macam Model Membaca

Sebelum memulai pemaparan mengenai kiat-kiat membaca, alangkah baiknya bila kita mengenal terlebih dahulu mengenai macam membaca buku. Ternyata ada bermacam-macam modelnya. Ada jenis membaca yang serius, kemudian ada yang agak serius, ada yang santai. Apa gerangan?
Syaikh Abdulaziz bin Abdulloh Sadhan menyebutkan ada tiga jenis membaca buku:
  1. Qiro-ah dirosiyyaah (Membaca untuk tujuan belajar )
  2. Qiro-ah tarwihiyyah (Membaca untuk tujuan mengistirahatkan otak)
  3. Qiro-ah isthit laa’iyyah (Membaca untuk tujuan mengetahui sekilas isi buku)
Jenis yang pertama, adalah sasaran pokok dari aktivitas membaca. Yang kedua hanya sebagai sampingan; sekedar untuk menghilangkan kepenatan otak. Ini bisa dilakukan seperti dengan mebaca buku sastra atau kisah-kisah para ulama dll.
Para ulama kita dahulu menasehatkan,
“Seyogyanya bagi seorang penuntut ilmu  memiliki agenda khusus untuk menghilangkan kepenatan fikiran. Bisa dengan membaca buku-buku sastra, atau kisah-kisah valid perihal kehidupan para ulama misalnya”
Adapun jenis membaca yang ketiga, adalah membaca dengan sekilas, untuk sekedar mengetahui kandungan isi buku secara global. Seperti untuk membuat rensensi misalnya.
Setelah menyimak sedikit dari muqodimah ini, kita menjadi tahu, ternyata membaca tidak selamanya harus serius. Adakalanya manusia merasa penat dan butuh aktivitas lain untuk menghilangkan kebosanan. Ini manusiawi. Maka tak ada salahnya, Anda memilih mencoba membaca buku-buku perjalanan hidup para ulama, sastra, dlsb. Sehingga, aktivitas pengusir kebosanan Anda, juga merupakan aktivitas yang produktif dan bermanfaat. 

Kiat-Kiat Sukses Membaca Buku

Setelah kita menyimak muqodimah singkat di atas, sekarang mari kita masuk pada inti pembahasan dari serial tulisan kali ini;
” 22 kiat sukses membaca kitab.”

Kiat Pertama: Pilih waktu khusus untuk membaca buku.

Seorang penuntut ilmu harus memiliki waktu khusus untuk membaca buku. Pandai-pandailah mengatur waktu. Bila perlu buat jadwal. Agar teratur dan disiplin dalam menjalani aktivitas ini. Sehingga hasilnya pun maksimal.
Kemudian suatu hal yang perlu dicatat juga oleh para penuntut ilmu; mengingat posisi Anda saat ini sebagai pelajar, maka jadikanlah aktivitas menuntut ilmu sebagai agenda utama dan patokan dari agenda-agenda lainnya yang Anda jalani. Artinya bila ada agenda lain yang kebetulan bertabrakan dengan jadwal belajar Anda, maka jangan jadwal belajar Anda yang jadi korban. Akan tetapi, batalkan agenda yang bertabrakan tersebut. Tolaklah dengan baik. Jelaskan maksud Anda kepada kawan yang mengajak Anda sekedar untuk ngabuburit di warung kopi atau nobar pertandingan klub sepakbola. InsyaAllah dia bisa memaklumi. Bahkan bisa jadi, secara tidak disadari sikap Anda menyadarkan kawan Anda, akan berharganya waktu.
Kemudian berusahalah untuk komitmen terhadap jadwal Anda. Jangan jadikan membaca buku hanya untuk sampingan saja, artinya hanya saat-saat sempat saja. Bagi Anda yang sedang melalui jenjang menuntut ilmu, maka dahulukanlah menuntut ilmu dari agenda lainnya. Kecuali bila memang ada agenda yang mendesak dan tidak bisa diakhirkan.

Kedua: Memilih tempat yang cocok untuk membaca.

Pilihlah tempat yang cocok dan nyaman untuk membaca buku. Jangan biarkan ada hal-hal  yang bisa menganggu kenyamanan Anda saat membaca. Supaya Anda betah bergumul dengan buku dan bisa maksimal mengambil faidah dari buku yang Anda baca.

Ketiga: Bertanyalah kepada yang lebih senior sebelum memilih buku yang akan Anda baca.

Terkadang seorang pelajar membaca sebuah buku, tanpa ia sadari ternyata ada buku lain yang lebih ringkas, lebih mudah gaya bahasanya dan lebih cocok untuk jenjangnnya saat ini. Namun karena ketidaktahuannya, akhirnya dia memilih buku yang sebenarnya belum cocok untuk dibaca saat ini. Akhirnya banyak waktu yang terkorbankan, namun faidah yang didapat sedikit.
Misal dalam benak Anda ada beberapa buku yang rasanya ingin ditela’ah. Misal ada Syarah al-Arba’in NawawiSyarah Bulughul Marom, dan Minhajus Saalikin. Bingung nih mau mulai dari mana. Ya, jangan segan-segan untuk konsultasi terlebih dahulu kepada ustadz atau pelajar yang lebih senior. Supaya Anda mendapat arahan untuk membaca buku yang sesuai dengan tingkatan Anda saat ini.
Untuk kisi-kisi, dalam membaca, mulailah dari buku-buku yang membahas hal-hal dasar terlebih dahulu. Masalah rukun iman dan rukun islam misalnya. Barulah setelah itu lanjutkan pada buku-buku yang lebih rinci.

Keempat: Pilihlah buku yang kualitas cetakan terbaik.

Beberapa buku diterbitkan oleh banyak penerbit.  Sebagian penerbit kurang proposional. Sehingga didapati banyak kesalahan tulis, seperti sisipan-sisipan tambahan (yang mengubah keontetikan buku) dan paragraf-paragaraf atau beberapa halaman yang hilang. Hal-hal seperti ini akan bisa menimbulkan pemahaman yang keliru dari yang dimaksudkan oleh penulis. Dan tentu akan menyusahkan pembaca dalam memahami uraian-uraian yang terdapat buku tersebut dengan baik.
Seperti yang pernah penulis alami. Waktu itu penulis membeli buku syarah Akidah Thohawiyah, karya Ibnu Abil’iz al Hanafi rahimahullah. Terbitan salah satu penerbit Mesir. Saat dibaca, ternyata ada beberapa praragraf yang tidak nyambung. Setelah kami lihat pada cetakan versi penerbit lain, ternyata ada 4 lembar halaman yang hilang. Agar tidak terulang kembali, maka kami sarankan kepada kawan-kawan sekalian; yang dirahmati Allah, untuk lebih selektif dalam memilih cetakan buku dan bertanya terlebih dahulu kepada senior atau ustadz kalian.

Kelima: Mulailah membaca buku yang dasar dan ringkas terlebih dahulu.

Tabi’at para pemuda memiliki semangat yang tinggi. Biasanya semangat ini begitu terasa di awal-awal membaca buku. Tidak diragukan ini merupakan karunia yang harus disyukuri. Namun yang disayangkan, saking semangatnya, iapun memilih untuk membaca buku yang muthowwalat (tebal) atau rumit pembahasannya, tanpa membekali terlebih dahulu dengan buku-buku dasar.
Akhirnya, tak perlu lama ia membaca, rasa malas dan bosan untuk melanjutkan bacaan menghampirinya. Disebabkan karena kesulitan dalam memahami pemaparan yang ada dalam buku tersebut. Karena buku tersebut ditulis, bukan ditujukan untuk jenjangnnya. Jadi tidak mengherankan bila kemudian daya naralnya belum mampu menjangkau banyak pemaparan dalam kitab muthowwalat.  Kalaupun ada beberapa maklumat yang berhasil ia tangkap, itu hanya sebatas tsaqofah (wawasan), bukan ta’shil al-‘lm (pengetahuan yang kokoh).
Oleh karenanya, mulailah dari kitab-kitab dasar terlebih dahulu. Barulah setelah itu bertahap pada kitab-kitab selanjutnya. Karena perjalanan mencari ilmu ini panjang. Tidak bisa ilmu yang mulia ini diraih dengan cara instans begitu saja. Butuh kesungguhan dan tahapan-tahapan yang harus dilalui. Sampai ia bisa meraih puncak dari disiplin yang ia pelajari. Dengan pondasi ilmiyyah yang kuat. Para ulama kita menasehatkan,
من أراده عجلا تركه عجلا
“Barangsiapa menginginkan ilmu secara instans, maka ilmu akan pergi secara instan pula.”
ومن لم يتقن الأصول حرم الوصول
“Barangsiapa yang tidak memperkuat dasar keilmuannya, maka ia tidak akan bisa mencapai puncak ilmu.”

***

Catatan:
Kiat-kiat yang kami uraikan di atas dan pada serial tulisan selanjutnya, merupakan faidah yang kami dapatkan dari buku karya Syaikh Abdulaziz Muhammad bin Abdullah As-Sadhan, yang berjudul: Ya tholibal ‘ilmi kaifa tahfadh kaifa taqro’ kaifa tafham.” Terbitan Dar al-Atsariyyah, Mesir.

Kiat Keenam: bacalah dulu muqodimah, sebelum menyelami inti pembahasan dari buku yang Anda baca


Ini akan sangat membantumu mengenal metode penulis dalam menyusun karyanya. Dari situ Anda akan tahu gambaran secara global isi daripada kitab yang akan dibaca, juga tentang latar belakang penulisan serta mengetahui makna istilah-istilah khusus yang dipakai oleh penulis. Jangan sampai nanti ketika membaca, terjadi salah menafsirkan istilah yang dipakai penulis.
Sebagai contoh, makna rumus huruf Qof (arab: ق) dalam kitab Taqribu at Tahdzib karya Ibnu Hajar, berbeda maknanya dengan rumus huruf Qof yang terdapat dalam kitab al Jami’ as Shoghir karya Imam as Suyuthi. Dalam Taqribu at Tahdzib, huruf Qof bermakna: hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah. Adapun dalam al Jami’ as Shoghir, huruf qof memiliki makna: muttafaqun ‘ alaihi (hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim).
Begitu pula istilah muttafaqun ‘ alaihi sendiri teenyata terdapat beberapa penafsiran. Menurut penulis kitab Muntaqo al Akhbar; Majdudin Ibnu Taimiyyah, muttafaqun ‘ alaihi bermakna  hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Bukhori, dan Imam Muslim. Berbeda dengan pemaknaan para muhaddist (ahli hadis) lainnya, mereka memaknai muttafaqun ‘ alaihi dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim saja.
Hal-hal yang semacam ini, dijelaskan dalam muqodimah kitab Taqribu at Tahdzib. Ini baru masalah makna istilah saja, ternyata ada beberapa perbedaan. Terlebih tentang metode penyusunan bab, rumusan masalah dan lain sebagainya. Yang hal-hal semacam inI, perlu diketahui oleh pembaca. Agar ia memiliki gambaran dan pemetaan terhadap buku yang hendak ia baca.
Mengetahui biografi penulis juga tak kalah penting. Dengan membaca biografi penulis, Anda akan semakin cinta kepadanya dan akan tahu mengenal kredibilitas ilmiahnya. Sehingga Anda akan semangat membaca karyanya. Dan semakin mantap untuk menyimak pemaparan yang disampaikan penulis dalam buah karyanya. Tak jarang pula kita dapati motivasi-motivasi berharga dari perjalanan hidup penulis dalam mencari ilmu. Disitu kita bisa mengambil pelajaran.

Ketujuh: untuk kitab syarah, pilihlah kitab syarah yang paling mukhtashor (ringkas)

Kitab at Tauhid misalnya, banyak para ulama yang telah men-syarahnya. Maka mulailah membaca syarah yang paling ringkas dan mudah terlebih dahulu. Bisa dari kitab Fathul Majid atau bisa juga memulai dari kitab Taisir al ‘Aziz al Hamid atau kitab Qoulul Mufid karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah.

Kedelapan: saat membaca, usahakan jangan  berhenti di tengah pembahasan

Bisa Anda jadikan sub-sub bab sebagai batasan target. Atau misal Anda membaca kitab fikih tentang sholat, Anda bisa menjadikan bab takbirotul ihrom sampai bab sujud sebagai pembatas bacaan. Atau menjadikan halaman-halaman buku sebagai target bacaan setiap harinya juga boleh. Yang terpenting, jangan sampai berhenti di tengah-tengah pembahasan. Karena model membaca yang seperti ini, akan membuat ma’lumat yang terekam jadi mengambang.

Kesembilan: tulis tanggal Anda mulai membaca suatu kitab. Kemudian saat sudah khatam membaca, tulis pula tanggalnya

Saat Anda memulai membaca kitab al Fawaid karya Ibnul Qoyyim misalnya, tulislah di halaman awal buku, tanggal, hari, bulan dan tahun Anda memulai membacanya. Kemudian ketika selesai membaca sampai akhir halaman, tuliskan tanggal, hari, bulan, tahun Anda mengkhatamkan kitab tersebut.
Tujuannya adalah:

Pertama, karena memang ini adalah kebiasaan para ulama ketika membaca buku. Sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Abdulaziz as Sadhan dalam bukunya; Ya tholibal ‘ilm kaifa tahfadh kaifa taqro’ kaifa tafham.
Kedua, menumbuhkan semangat membaca yang lebih tinggi. Saat Anda sedang membaca, Anda melihat tanggal mulai membaca sudah jauh berlalu. Saat itulah semangat Anda untuk menyelesaikan bacaan semakin tinggi.
Disamping itu, metode ini juga membantu Anda dalam mengevaluasi hari-hari Anda dan Instropeksi diri. Misal saat Anda selesai membaca sebuah kitab, ternyata antara tanggal mulai dengan tenggal selesai,  jaraknya  cukup lama, di situlah Anda akan menyadari  pentingnya menjaga waktu dan termotivasi untuk tidak menghabiskannya untuk hal yang kurang manfaat.

Kesepuluh: jangan terburu-buru untuk ingin cepat selesai

Dalam membaca, yang menjadi tujuan bukan cepat selesai meng-khatamkan  bacaan. Akan tetapi, target pokoknya adalah mengambil faidah-faidah yang terdapat dalam buku. Terlebih bila buku yang dibaca adalah buku yang membahas permasalah rumit, seperti fikih muamalah misalnya. Maka ini membutuhkan konsentrasi yang tidak sedikit. Para ulama kita menasehatkan,
لا تحرم نفسك بسبب التعجل
“Jangan engkau halangi dirimu untuk meraih  ilmu, disebabkan karena ketergesaanmu”

Kesebelas: fokuskan perhatian

Saat membaca sebuah kitab, terkadang menemui beberapa kata yang belum tahu artinya. Akhirnya kita terdorong untuk mencarinya di kamus. Nah, keseringan membuka kamus, akan membuyarkan konsentrasi.
Tapi bagaimana lagi, padahalkan memang perlu?
Begini sahabat yang dirahmati Allah, perlu kita ketahui bahwa, kata yang belum diketahui artinya saat membaca sebuah kitab, ada dua macamnya:

  1. Kata-kata yang sangat berpengaruh dalam memahami konteks kalimat atau paragraf. Artinya, Anda tidak bisa memahami konteks sebuah kalimat atau paragraf, kecuali dengan mengetahui arti kata tersebut. Untuk model kata yang seperti ini, Anda harus mencari artinya di kamus. Karena kepahaman Anda terhadap teks kalimat atau suatu paragraf, bermuara pada arti kata tersebut. Ingat, saat proses pencarian dalam kamus, fokuskan pencarian pada kata yang Anda maksudkan. Jangan tersibukkan dengan mufrodat-mufrodat  lainnya. Fokuskan dulu pencarian pada makna kata yang  Anda cari. Untuk mufrodat-mufrodat lainnya yang dirasa penting juga, bisa Anda beri tanda kemudian nanti usai membaca, bisa diruju’ kembali.
  2. Kata-kata yang tidak terlalu berpengaruh dalam memahami konteks sebuah kalimat atau paragraf. Untuk kata jenis ini, sebaiknya Anda lewati dulu, dan lanjutkan bacaan Anda. Nanti bisa Anda cari artinya setelah usai membaca. Agar konsentrasi terjaga dan tidak banyak memakan waktu.
Kiat kedua belas, catat faidah yang Anda dapatkan dari buku yang Anda baca.

Saat membaca, pena atau pensil jangan sampai absen dari genggaman tangan Anda. Bila Anda menemui faidah yang berharga, catatlah di sampul buku, atau halaman-halaman kosong di dalam buku lainnya. Bisa di halaman depan atau halaman belakang. Semua faidah yang termaktub dalam buku memang berharga. Namun, faidah itu bertingkat-tingkat. Maka pilihlah faidah yang menurut Anda paling penting atau berupa pengetahuan baru. Nanti, bila sewaktu-waktu Anda membutuhkan ma’lumat tersebut, Anda akan mudah mencarinya di coretan-coretan halaman depan atau halaman belakang yang Anda gunakan untuk mengumpulkan faidah.
Jangan lupa sertakan nomor halaman buku yang memuat faidah yang Anda dapat. Jadi ini semacam buat daftar isi sendiri. Metode ini amat membantu untuk menguatkan ingatan Anda terhadap faidah-faidah yang Ada dalam buku.

Ketiga belas, kumpulkan faidah yang Anda catat, lalu golongkan sesuai bab yang dibahas dalam sebuah catatan.

Bila sudah mencatat faidah di halaman sampul buku, akan lebih baik lagi bila Anda kumpulkan semua faidah dari buku-buku yang Anda baca. Kemudian Anda pisahkan menjadi bab-bab sesuai kategori ma’lumatnya. Misal akidah kumpulkan dalam  catatan tentang akidah. Fikih tentang fikih. Tarikh (sejarah) tentang tarikh, dan seterusnya.
Bila sewaktu-waktu ada satu faidah yang hilang, atau lupa tidak tercatat, maka carilah faidah tersebut seperti seorang yang mencari binatang yang membawa perbekalannya, yang hilang di tengah padang pasir.
Dengan demikian -setelah taufik dari Allah- Anda akan merasakan bahwa bacaan Anda benar-benar menambah ilmu dan tersimpan kuat dalam ingatan Anda. Sehingga saat Anda hendak mengisi ceramah, seminar, atau khutbah, Anda akan mudah menemukan kembali ma’lumat atau faidah yang Anda butuhkan.

Keempat belas, pilihlah kitab andalan pada setiap disiplin ilmu.

Misal, dalam ilmu nahwu, pilih alfiyah ibnu malik beserta syarahnya milik Ibnu ‘Aqil. Dalam ilmu aqidah, kitab at-tauhid misalnya. Jangan lupa terapkan kiat ke 11 dan 12 di atas.

Kelima belas, sebelum memasuki musim atau moment tertentu, bacalah kitab yang berkaitan dengan musim atau moment tersebut.

Seperti saat musim hujan, bacalah buku yang membahas tentang fikih berkaitan dengan hujan. Saat musim haji, bacalah fikih haji. Saat musim puasa, bacalah buku tentang fikih puasa. Saat musim hari raya qurban, bacalah buku tentang fikih qurban, dst.
Ini sangat bermanfaat bagi para penuntut ilmu. Sudah terbukti, apabila Anda membaca suatu kitab yang membahas tentang suatu ibadah sesuai dengan musimnya masing-masing, Anda akan merasakan betala lezatnya ibadah, yang dibangun di atas ilmu.

Keenam belas, metode muqoronah dan mufaroqoh.

Maksudnya begini, biasanya satu kitab ada beberapa versi syarah. Nah, mulailah dari syarah yang kiranya paling komprehensif dan paling inti. Lalu setelah berpindah pada syarah selanjutnya. Kemudian, di saat Anda mendapat faidah tambahan yang tidak disebutkan dalam kitab syarah pertama, maka catatlah faidah tersebut, lalu kumpulkan bersama catatan faidah kitan syarah pertama (seperti yang telah kami jelaskan pada kiat ke 12). Terapkan metode ini pada syarah-syarah lainnya yang akan Anda baca.
Sebagai permisalan, kitab “al Arba’in an Nawawi“. Kitab yang tidak asing lagi di telinga kaum muslimin ini memiliki banyak versi syarah. Mulai dari ulama mutaqddimin sampai ulama mutakhirin. Mulai dari Ibnu Rojab al Hambali, Ibnu Daqiq al ‘ied, kemudian untuk ulama akhir-akhir ini yang juga men-syarah kitab ini adalah Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan Syaikh Sholih Fauzan.
Nah, pilihlah kitab syarahnya Ibnu Rojab –rahimahumallah– sebagai pegangan asal. Lalu setalah membaca satu hadis dari syarahnya Ibnu Rojab, bacalah syarah-syarah selanjutnya pada hadis yang sama. Di sini Anda akan mendapati faidah-faidah berharga yang tidak di sebutkan pada syarah pertama, begitu pula pada kitab-kitab syarah selanjutnya. Sehingga Anda telah mengumpulkan dan menggabungkan faidah dari ulama yang berbeda.

Ketujuh belas, membaca kitab-kitab fatwa.

Pada poin ini, kami akan membeberkan kepada Anda sebuah metode yang amat terasa manfaatnya dan sudah terbukti. Telah kami prkatekkan dengan beberapa kawan kami, dan alhamdulillah, Allah memberikan manfaat pada metode ini.
Metode ini telah di singgung oleh Imam Bukhori dalam kitab shahihnya, dan dijadikan judul salah satu bab:
باب طرح الإمام المسألة على على أصحابه ليختبر ما عندهم من العلم
“Bab: Seorang Alim memberikan pertanyaan kepada saudaranya untuk menguji keilmuannya”
Di sini kami beri judul: seorang mengajukan pertanyaan kepada kawan-kawannya, untuk mudzakaroh (belajar kelompok) dan saling menguji keilmuannya.
Pilihlah salah satu kitab fatwa. Kami sarankan yang berkaitan dengan fikih ibadah yang sesuai dengan musimnya. Kemudian ajaklah beberapa kawan Anda yang kelihatan memiliki semangat dalam menuntut ilmu, untuk membaca kitab fatwa tersebut secara berkelompok.
Setelah terbentuk satu kelompok belajar, salah seorang dari kalian membacakan pertanyaan yang ada dalam kitab fatwa tersebut, dan biarkan jawaban dari Syaikhnya jangan dibaca terlebih dahulu.
Kemudian yang lainnya menjawab pertanyaan tersebut sesuai kadar pengetahuannya. Bila ada jawaban yang berbeda satu sama lainnya, diskusikanlah dan saling berdu argumen. Dan ini bukan termasuk berbicara tentang syari’at Allah tanpa ilmu. Akan tetapi min baabil mudaarosah (untuk tujuan belajar). Setelah masing usai menyampaikan jawaban beserta dalil dan saling berdiskusi, barulah si pembaca membacakan jawaban dari ulama yang menyusun kitab fatwa tersebut.
Metode seperti ini akan meimbulkan rasa penasaran terhadap jawaban Syaikh. Dan keinginan yang kuat untuk mengetahui letak kekeliruan dan kelemahan jawaban kita. Sehingga kesadaran untuk mengetahui ilmu itu hadir dan faidah ilmiyyah dari jawaban Syaikh benar-benar teringat di dalam memori kita.

Kedelapan belas, jangan berpindah-pindah buku sebelum selesai membaca.

Sering berpindah-pindah buku sebelum menyelesaikan bacaan, akan melelahkan otak dan faidah yang di dapat akan tercerai berai. Jadi, usahakan bila membaca suatu buku, azamkan dalam dirimu untuk menyelesaikan buku tersebut. Tidak mengapa Anda memiliki rutinitas membaca lebih dari satu buku dalam satu pekan. Akan tetapi, aturlah waktunya. Semakin sedikit buku yang dibaca dalam satu pekan semakin efisien waktu dan tenaga pikiran. Jadi, mulai dari sedikit dulu, baru setelah terbiasa bisa nambah lagi bukunya. Misal seminggu satu atau dua buku dulu.
Dengan seperti ini, Anda akan terpacu untuk lebih pandai membagi waktu dan termotivasi lada fase selanjutnya untuk menambah jumlah buku yang menjadi rutinitas baca Anda dam satu pekan.

Kesembilan belas, membaca sima’an bersama kawan.

Para ulama biasanya mempraktekkan metode ini untuk membaca kitab-kitab yang tebal, semacam Shohih Bukhori, Siyar A’laam an Nubala dan lainnya. Jadi buatlah kesepakatan dengan beberapa kawan Anda. Kemudian masing-masing tentukan batas jatah membacanya. Bisa perhalaman bisa perbab. Diantara manfaat metode membaca yang seperti ini adalah, menumbuhkan motivasi untuk berkumpul dalan rangka berbagi faidah dan akan mendorong diri kita untuk membaca kitab lebih banyak lagi.

Kedua puluh, sebagai selingan untuk mengusir kepenatan pikiran Anda, bacalah kitab-kitab tentang biografi ulama, sastra, sejarah, tazkiyatun nufus dll.

Karena sudah suatu hal yang lumrah bila jiwa manusia merasa bosan dengan aktivitas yang tidak variatif. Maka tak ada salahnya Anda mengusir kebosanan ini dengan melakukan aktivitas lain. Usahakan pengusir kepenatan ini adalah aktivitas yang bermanfaat dan menambah ilmu juga. Seperti membaca buku-buku yang disebut di atas. Atau dengan mendengar rekaman kajian dst (yang berfaidah).

Kedua puluh satubila Anda membeli buku baru, bacalah baik-baik judul, pengarang, muhaqiq muqodimahnya dan daftar isi.

Macam baca yang seperti ini disebut qiroah al istithlaa’iyyah (membaca sekilas untuk mengetahui isi buku secara global, sebagaimana telah kami singgung lada sesi mukodimah). Misal hari ini ada buku baru yang menempati rak buku Anda, dengan judul “asy-rotus saa’ah” (Tanda-tanda hari kiamat). Maka bca baik-baik judul bukunya, nama pengarangnya; dia ulama abad ke berapa, siapa muhaqiq kitab tersebut dll. Sehingga Anda memiliki latar pengetahuan terhadap setiap kitab yang Anda miliki, yang nantinya akan membantu sebagai pertimbangan untuk memilih kitab yang akan dibaca selanjutnya.

Kedua puluh dua, maksimalkan kemampuan Anda untuk hal-hal yang bermanfaat.

Sebagian pemuda dikaruniai hafalan yang kuat dan tekun membaca. Namun sayang, kelebihan ini tidak dia maksimalkan untuk hal-hal yang bermanfaat. Kuat hafalannya, namun digunakan untuk mengahal aktor-aktor dalam komik naruto, nama pemain bola, artis-artis sinema dll. Tekun membaca, namun ia maksimalkan untuk membaca koran, komik, novel dll. Yang lebih miris, bila dzikir pagi petang saja belum hafal. Fikih sholat saja belum pernah dibaca.
Ada cerita yang menarik yang ditulis oleh Khotib al Baghdadi rahimahullah, dalam bukunya “Syarof Ash Haabi al Hadis“, setelah beliau membawakan sanad kisah ini kepada Ustman bin Ali rahimahullah. Ustman menceritakan, “Saya pernah mendengar A’masy berkata:
إذا رأيت الشيخ لم يقرأ القرآن ولم يكتب الحديث فاصفع له فإنه من شيوخ القمر
“Bila kalian melihat kiyai yang tidak pandai membaca Alquran dan tidak menulis hadis (menyusunnya dalam bab fikih atau mensyarahnya menjadi sebuah karya tulis. pent), maka ketahuilah sesungguhnya dia adalah syuyukh al qomar. “
“Apa maksud syuyukh al qomar itu?” Tanya Abu Sholih.
شيوخ دهريون يجتمعون في ليالي القمر يتذاكرون أيام الناس ولا يحسن أحدهم أن يتوضأ للصلاة.
“Mereka para kiyai musiman, yang berkumpul di malam-malam hari pergantian bulan (hijriyah. pent). Kemudian mereka saling membicarakan hari-hari manusia, namun mereka belum bagus wudhunya.” (Syarof Ash Haabi al Hadis, hal. 67-68)
Oleh karena itu, kita mendapati, orang-orang yang keseringan mendengar nyanyian-nyanyian untuk tujuan merilekskan pikiran, mereka kurang minat untuk mendengarkan Al Qur’an. Bahkan bisa sampai tidak senang mendengarkan Al Qur’an. Demikian dikatakan Syaikhul Islam Ahmad bin Abdulhalim al Harroni –rahimahullah-. (Iqtidho ‘ Shirot Al-mustaqim,  ta’liqnya Syaikh Ibnu Utsaimin,  hal. 307)
Dan ini realita, sebagian orang betah lama membaca berlembar-lembar halaman koran, majalah otomotif (dll), komik dan novel. Mereka betah sampai berjam-jam. Alangkah sayangnya waktu  bila dihabiskan hanya untuk membaca hal-hal yang demikian. Saat membaca Al Qur’an atau beberapa lembar syarah hadis, rasa bosan cepat datang. Sungguh ini musibah. Maka berusahalah untuk membiasakan diri untuk membaca buku-buku yang bermanfaat.
Dengan demikian, alhamdulillah, kita telah menyelesaikan serial tulisan mengenai kiat sukses membaca kitab. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk setiap yang membacanya, dan penulis berharap, semoga Allah menjadikan tulisan ini sebagai amalan yang ikhlas, yang bermanfaat di hari pertimbangan amal nanti. Selamat mencoba.
Wabillahit Taufiiq wal Hidayah.
____
Ditulis pagi hari, Ahad 2 Jumadal Akhir 1436 H, di sakan thullab Madinah Islamic University.
Ahmad Anshori
Artikel : Muslim.Or.Id


Read More

Selasa, 16 Januari 2018

Kiat Menjaga Semangat Membaca Buku (Kitab)


Hendaknya seorang pelajar muslim menjaga semangat membaca buku, agar kehidupan akademisnya berjalan dengan penuh manfaat dan feaedah. Oleh sebab itu, ketahuilah 9 (sembilan) kiat menjaga semangat membaca buku:

1. Niat yang Ikhlas Hanya Karena Allah عزَ وجل Semata

Allah عزَ وجل berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

Terjemah,

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” – Q.S. Al-Bayyinah (Bukti) [surat ke-98]: ayat nomor 5.

Tafsir,

“Padahal dalam seluruh syariat mereka hanya diperintah untuk beribadah kepada Allah, dengan meniatkan ibadah mereka itu untuk dapat melihat wajah Allah seraya meninggalkan kesyirikan menuju keimanan, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus, yaitu Islam.”

2. Mengetahui dan meyakini bahwa Ilmu adalah Ibadah

Tidak diragukan lagi bahwa ilmu adalah ibadah, bahkan merupakan ibadah yang paling agung dan paling utama, sehingga Allah عزَ وجل menjadikannya sebagai bagian dari Jihad fi Sabilillah.

Allah عزَ وجل berfirman,

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Terjemah,

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang Agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, agar mereka itu dapat menjaga dirinya.” – Q.S. At-Taubah (Pengampunan) [surat ke-9]: ayat nomor 122.

Tafsir,

“Tidak seyogianya orang-orang yang beriman berangkat secara keseluruhan memerangi musuh, sebagaimana tidak dibenarkan mereka secara keseluruhan meninggalkan perang. Mengapa dari setiap golongan itu tidak ada satu kelompok yang cukup sebagai wakil mereka untuk mendalami pemahaman tentang Din Allah dan tentang wahyu yang diturunkan kepada Rasul-Nya. Agar mereka mengingatkan kaum mereka berdasarkan ilmu yang telah dipelajari itu ketika kembali kepada mereka, agar mereka takut kepada adzab Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.”

Yang dimaksud (لِّيَتَفَقَّهُوا) adalah hendaknya ada kelompok orang yang benar-benar melaksanakan tugas belajar. Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkannya (diberi kepahaman) dalam urusan agama. …” – Shahih Muslim nomor 1037 (كتاب الزكاة)

Apabila Allah عزَ وجل menganugerahkan kepahaman dalam masalah agama ini yang meliputi setiap ilmu syar’i, baik ilmu tauhid, aqidah atau lainnya maka hendaknya seseorang itu berbahagia, karena berarti Allah menginginkan kebaikan baginya.

Imam Ahmad berkata,

“Ilmu itu sesuatu yang tiada bandingnya bagi orang yang niatnya benar.”
“Bagaimanakah benarnya niat itu wahai Abu Abdillah?” Tanya orang-orang kepada beliau.
Maka beliau menjawab,
“Yaitu berniat untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain.” (terutama sekali diri sendiri dan anggota keluarga -pen)

3. Sangat Cinta (Senang) Kepada Kitab

Mengenai keutamaan ilmu sudah diketahui oleh banyak orang, karena manfaatnya yang sangat luas. Kebutuhan yang mendesak untuk memperoleh ilmu itu seperti kebutuhan badan terhadap pernafasan. Akan Nampak kekurangannya seiring dengan berkurangnya ilmu, demikian juga akan mendapatkan kenikmatan dan kegembiraan pada saat mendapatkannya.

Menjadi maklum tatkala para pelajar sangat senang belajar serta senang untuk memilih dan mengumpulkan kitab. Oleh karena itu pilihlah kitab-kitab pokok, dan ketahuilah bahwa satu kitab tidak dapat mewakili kitab lainnya. Oleh karena itu hendaknya seorang muslim tidak mengumpulkan kitab-kitab yang tidak berharga, terutama kitab-kitab ahli bid’ah, ilmu kalam dan filsafat, sastra, sebab itu adalah racun yang sangat berbahaya.

Diketahui bahwa kitab itu ada 3 (tiga) macam:
Kitab yang baik;
Kitab yang jelek;
Tidak baik tidak pula jelek.

4. Mengumpulkan Kitab yang Ditulis Oleh Para Ulama Salaf

Termasuk sesuatu yang penting adalah hendaklah seorang Muslim itu memilih koleksi kitab perpustakaannya dengan kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama Salaf, karena kebanyakan kitab yang ditulis oleh orang-orang zaman sekarang ini sedikit makna panjang kalimatnya. Seseorang bisa jadi menghabiskan waktu membaca satu lembar penuh namun mungkin bisa diringkas dalam satu atau dua baris saja, juga banyak kalimat-kalimat yang sulit dipahami. Berbeda dengan kitab-kitab Ulama Salaf, bahasanya mudah namun kuat, tidak terdapat satupun kalimat tanpa makna.

5. Menelaah Kitab-Kitab Besar

Menelaah kitab-kitab yang besar adalah perkara yang sangat penting agar memperoleh banyak ilmu pengetahuan, meluaskan pemahaman, mengeluarkan hal-hal tersembunyi dari lautan faedah ilmiah dan istimewa, berpengalaman dalam mencari titik-titik pembahasan dan masalah-masalah ilmiah serta bisa mengetahui cara para ulama dalam karya ilmiah dan istilah mereka.

Perlu diketahui bahwa menelaah kitab-kitab besar dapat bermanfaat bagi seorang pelajar namun dapat pula membahayakannya. Apabila seseorang itu masih tergolong kedalam seorang pelajar yang pemula, maka menelaah kitab-kitab besar dapat membawa kehancuran pada dirinya, analoginya seperti orang yang tidak pandai berenang lalu dirinya berenang dalam samudera yang luas.

Namun apabila dirinya adalah seorang pelajar yang berilmu, yang ingin memperkaya ilmu pengetahuannya maka menelaah kitab-kitab/ buku-buku besar ini adalah sesuatu yang baik.

6. Mengetahui Judulnya

Seorang pelajar membutuhkan spesifikasi dalam suatu ilmu yang hendak dia ketahui atau hendak ditelaah lebih lanjut, oleh sebab itu dirinya perlu mengetahui judul-judul buku yang hendak diambil manfaatnya.

7. Mengetahui Istilah yang Terkandung Dalam Kitab

Istilah yang terkandung dalam kitab biasanya terdapat pada bagian Muqaddimah. Dengan mengetahui istilah-istilah yang digunakan oleh penulis seorang pelajar dapat menghemat banyak waktu. Hal ini dilakukan oleh sebagian penulis dalam muqaddimah kitabnya. Seperti dalam kitab Bulugh al-Maram, apabila penulis menyebut kalimat Muttafaq ‘Alaih yang beliau maksud adalah bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

8. Mengetahui Gaya Bahasa dan Ungakapan Penulis

Oleh karena itu apabila seorang pelajar pertama kali membaca kitab tertentu, maka dirinya akan mendapatkan banyak istilah (ungkapan) yang membutuhkan perenungan dan pemikiran mengenai maknanya, karena dia belum terbiasa menghadapinya. Namun apabila seseorang itu telah berulang kali membaca, niscaya dia akan terbiasa. Misal kitab Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah, apabila seseorang belum terbiasa membaca kitab beliau, maka akan kesulitan untuk memahaminya, namun apabila sudah terbiasa maka dia akan dapat memahaminya dengan mudah.

9. Menulis Catatan Kaki

Hendaknya seorang pelajar tidak perlu merasa ragu untuk menulis catatan kaki atau keterangan pinggir dalam kitab yang dia miliki. Ini juga merupakan hal yang perlu diperhatikan oleh seorang pelajar. Apabila dirinya menemukan sebuah permasalahan yang membutuhkan syarah (penjelasan) dalil atau komentar, dan dia khawatir akan terlupakan , maka dia harus mencatatnya (mengomentarinya), dapat ditulis di pinggir halaman atau di bawahnya.

Demikianlah 9 (sembilan) kiat menjaga semangat membaca buku.

Diintisarikan dari:
Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin. 1424 H/ 2003 M. Syarah Adab & Manfaat Menuntut Ilmu (Syarh Hilyah Thaalibil ‘Ilmi). Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.
Tim Ulama Mushaf Syarif Mujamak Malik Fahd. 1437 H/ 2016 M. Terjemah At-Tafsir Al-Muyassar. Surakarta: YSPII & Al-Qowam Group. – Kitab terjemah dari judul asli: At-Tafsirul Muyassaru (mushaf al-Madinah an-Nabawiah).


sumber: https://temanshalih.com/kiat-menjaga-semangat-membaca-buku/ (dengan sedikit perubahan redaksi tanpa merubah makna)

Semoga Bermanfaat,
Read More

Jumat, 12 Januari 2018

Murottal Al-Quran Syaikh Hani Rifai


Berikut adalah link download Murottal Al-Qur'an Syaikh Hani ar-Rifa'i, Imam Masjidil Haram Mekkah.

https://drive.google.com/open?id=0B7zJ2OmxYY6DYjFLblFGV2tGR2c

Semoga bermanfaat.

sumber : tvquran.com
Read More

Murottal Al-Quran Syaikh Al Minshawi


Berikut adalah link download Murottal Al-Qur'an Syaikh Muhammad Siddiq Al Minshawi

https://drive.google.com/open?id=0B7zJ2OmxYY6DMUpOODhGM19KWWM

Semoga bermanfaat.

sumber :  tvquran.com
Read More

Murottal Al-Quran Syaikh Saad Al-Ghamidi


Berikut adalah link download Murottal Al-Qur'an Syaikh Saad Al-Ghamidi.

https://drive.google.com/open?id=0B7zJ2OmxYY6DOEVic3d6ZU8xNVk

Semoga bermanfaat.

sumber :tvquran.com
Read More

Murottal Al-Quran Tarawih Makkah 1437 H


Berikut adalah link download rekaman Murottal Al-Qur'an pada Shalat Tarawih di Masjidil Haram Makkah  tahun 1437 H.

https://drive.google.com/open?id=0B7zJ2OmxYY6DaDhsb3FGenkyb2c

Semoga bermanfaat.

sumber : quranicaudio.com
Read More

Murottal Al-Quran Syaikh Maher Al-Muaqly


Berikut adalah link download Murottal Al-Qur'an Syaikh Maher Al-Muaqily, Imam Masjidil Haram Mekkah.

https://drive.google.com/open?id=0B7zJ2OmxYY6DR3hsbl9YVXp0VzQ

Semoga bermanfaat.

sumber : quranicaudio.com
Read More

Murottal Al-Quran Syaikh Suud Asy-Shuraim


Berikut adalah link download Murottal Al-Qur'an Syaikh Suud Asy-Shuraim, Imam Masjidil Haram Mekkah.

https://drive.google.com/open?id=0B7zJ2OmxYY6DdUhIczJFSFFXM00

Semoga bermanfaat.

sumber : tvquran.com
Read More

Murottal Al-Quran Syaikh Salah Bukhatir


Berikut adalah link download Murottal Al-Qur'an Syaikh Salah Bukhatir. Untuk Surat Al-Baqarah dihapus karena ada beberapa kesalahan teknis.

https://drive.google.com/open?id=0B7zJ2OmxYY6DdUNXbHJJbUNYWmM

Semoga bermanfaat.

sumber : quranicaudio.com
Read More

Murottal Al-Quran Syaikh Abdurrahman Al-Ausy


Berikut adalah link download Murottal Al-Qur'an Syaikh Abdurrahman Gamal Allousy.

https://drive.google.com/open?id=0B7zJ2OmxYY6DckQ0TE9NYTgtYmM

Semoga bermanfaat.


Read More

Murottal Al-Quran Syaikh Emad Al-Mansary


Berikut adalah link download Murottal Al-Qur'an Syaikh Emad Al-Mansary per Juz.

https://drive.google.com/open?id=0B7zJ2OmxYY6DanlLamU4bkJ6MnM

Semoga bermanfaat.

Read More

Murottal Al-Quran dengan Terjemah Bahasa Indonesia


Berikut adalah link download Murottal Al-Qur'an Syaikh Mishary Alafasy yang disertai dengan terjemahan bahasa Indonesia.

https://drive.google.com/open?id=0B7zJ2OmxYY6DZTNBcFpyenNkNEk

Semoga bermanfaat.


Read More

Murottal Al-Quran Syaikh Abdullah Matrood


Berikut adalah link download Murottal Al-Qur'an Syaikh Abdullah Matrood.

https://drive.google.com/open?id=0B7zJ2OmxYY6DZlByUEJLU3p6YWc

Semoga bermanfaat.

sumber : quranicaudio.com
Read More

Murottal Al-Qur'an Syaikh Muhammad Ayyub


Berikut adalah link download Murottal Al-Qur'an Syaikh Muhammad Ayyub Rahimahullah, Imam Masjidil Nabawi Madinah di masanya. Beliau berasal dari Arkani / Rohingnya.

https://drive.google.com/open?id=0B7zJ2OmxYY6DeElVdVV3bnd0Q28

Semoga bermanfaat.

sumber : quranicaudio.com
Read More

Murottal Al-Quran Syaikh Mishary Alafasy


Berikut adalah link download Murottal Al-Qur'an Syaikh Mishary Rashid Alafasy, Imam Grand Mosque Kuwait.

https://drive.google.com/open?id=0B7zJ2OmxYY6DYkFqYVpnSFEzWW8

Ada juga rekaman Murottal Al-Qur'an Syaikh Mishary Rashid Alafasy versi lama, yang kabarnya murottal ini direkam saat masa muda beliau, ketika beliau belajar di Universitas Islam Madinah. berikut linknya.

https://drive.google.com/open?id=0B7zJ2OmxYY6Da2ktWldJZGJzM2M

Semoga bermanfaat.


Read More

Murottal Al-Quran Syaikh Mahmud Khalil Al-Husary


Berikut adalah link download Murottal Al-Qur'an Syaikh Mahmud Khalil Al-Husary.

https://drive.google.com/open?id=0B7zJ2OmxYY6DV3FnclItbnJhTTQ

Berikut Murottal yang masih menggunakan format audio berupa FLAC (lossless audio), ukurannya besar.

https://drive.google.com/open?id=0B7zJ2OmxYY6DOHVMbDFRU0pEUXc

Semoga bermanfaat.


Read More

Murottal Al-Quran Syaikh Khalifa Tunaiji


Berikut adalah link download Murottal Al-Qur'an Syaikh Khalifa Tunaiji.

https://drive.google.com/open?id=0B7zJ2OmxYY6DOXJmWWdCamsxdEE

Semoga bermanfaat.

sumber : quranicaudio.com
Read More

Murottal Al-Quran Syaikh Khalid Ghamidi


Berikut adalah link download Murottal Al-Qur'an Syaikh Khalid Ghamidi, Imam Masjidil Haram Mekkah.

https://drive.google.com/open?id=0B7zJ2OmxYY6DWWtwQXBUVGFVY2c

Semoga bermanfaat.

sumber : quranicaudio.com
Read More

Murottal Al-Quran Syaikh Fahd Al-Kandari


Berikut adalah link download Murottal Al-Qur'an Syaikh Fahd Al-Kandari, Imam Grand Mosque Kuwait.

https://drive.google.com/open?id=0B7zJ2OmxYY6DWFU5QVZDTlNKOWc

Semoga bermanfaat.

sumber : quranicaudio.com
Read More

Murottal Al-Quran Syaikh Bandar Baleela


Berikut adalah link download Murottal Al-Qur'an Syaikh Bandar bin Abdul Aziz Baleela, Imam Masjidil Haram Mekkah.

https://drive.google.com/open?id=0B7zJ2OmxYY6DTGsxS1JFNWpMMGs

Semoga bermanfaat.

sumber : quranicaudio.com
Read More

Murottal Al-Quran Syaikh Ali Jaber


Berikut adalah link download Murottal Al-Qur'an Syaikh Ali Jaber, Imam Masjidil Haram Mekkah pada masanya.

https://drive.google.com/open?id=0B7zJ2OmxYY6DS2tzZ09sa2ZZamc

Semoga bermanfaat.

sumber : quranicaudio.com
Read More

Murottal Al-Qur'an Syaikh Ali Al-Huthaifi


Berikut adalah link download Murottal Al-Qur'an Syaikh Ali Al-Huthaifi, Imam Masjidil Nabawi Madinah.

https://drive.google.com/open?id=0B7zJ2OmxYY6DeFMtRUdzMEdjRHc

Semoga bermanfaat.

sumber : tvquran.com
Read More

Murottal Al-Quran Syaikh Abu Bakar Al-Shatiri


Berikut adalah link download Murottal Al-Qur'an Syaikh Abu Bakar Al-Shatiri, beliau adalah murid dari Syaikh Ayman Rusydi Suwaid.

https://drive.google.com/open?id=0B7zJ2OmxYY6DS1FtaVhyNnV5RlE

Semoga bermanfaat.

sumber : tvquran.com
Read More

Murottal Al-Quran Syaikh Abdullah Bashfar


Berikut adalah link download Murottal Al-Qur'an Syaikh Abdullah Bashfar, beliau adalah murid dari Syaikh Ayman Rusydi Suwaid.

https://drive.google.com/open?id=0B7zJ2OmxYY6DQXlORDhMU1ZHVnM

Semoga bermanfaat.

sumber : quranicaudio.com
Read More

Murottal Al-Quran Syaikh Abdullah Al-Juhani


Berikut adalah link download Murottal Al-Qur'an Syaikh Abdullah Al-Juhani, Imam Masjidil Haram Mekkah.

https://drive.google.com/open?id=0B7zJ2OmxYY6DdnZHM1EyWW53eGM

Semoga bermanfaat.

sumber : quranicaudio.com
Read More

Download Murottal Al-Qur'an Syaikh Abdul Rahman As-Sudais


Berikut adalah link download Murottal Al-Qur'an Syaikh Abdul Rahman As-Sudais, Imam Masjidil Haram Mekkah.

https://drive.google.com/open?id=0B7zJ2OmxYY6DTF8tamt6ei13SU0

Semoga bermanfaat.

sumber : quranicaudio.com
Read More

Kamis, 04 Januari 2018

5 Hikmah Masalah dalam Rumah Tangga


5 Hikmah Masalah dalam Rumah Tangga :

1. Merupakan kesempatan untuk menambah timbangan Pahala kita
2. Merupakan Peringatan dari Allah atas maksiat yang kita lakukan sblm dihukum di akhirat kelak. Allah dengan kemurahan dan kasih sayangnya mengingatkan kita dg peringatan berupa permasalahan rumah tangga, Allah ingin agar kita sadar bahwa ternyata ibadah kita masih perlu ditingkatkan dan kita masih sering melakukan maksiat kepada Allah.
3. Dengan adanya masalah dan problematika rumah tangga kita bisa memandang dan Mengetahui hakikat sebenarnya dunia ini secara hakiki. tidak ada yang sempurna didalam kehidupan dunia. sebesar apapun kebahagian di dunia ini pasti ada kurangnya.
4. Melatih kedewasaan dalam berkehidupan rumah tangga
5. Memberikan peluang untuk mengenali pasangan lebih dalam lagi.

Disarikan dari ceramah Ustadz Abdullah Zaen 
Tema : Surat terbuka untuk para Istri 
Judul : Hikmah dibalik masalah, bagian 1, 2, 3 dan 4

(silahkan klik link pada 123 dan 4 diatas untuk menyimak ceramahnya)
Read More

Menyikapi Musibah / Takdir Buruk


Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya Al-Fawaid menjelaskan beberapa hal yang seharusnya dilakukan dalam menyikapi musibah yang menimpa kita, Yaitu :

1. Mashadul Tauhid : Meyakini bahwa yang menimpa kita sudah merupakan takdir Allah yang sudah ditulis 50.000 tahun sebalum diciptakannya langit dan bumi. Kita mengimani Qodar baik dan buruk.
2. Masyhadul 'Adl : Meyakini bahwa Allah Maha Adil, dan sesuatu yang Allah takdirkan itu pasti Adil, dan sesuatu yang menimpa kita pasti merupakan yang terbaik bagi kita. Allah tidak akan pernah berbuat Dzalim kepada hambaNya.
3. Masyhadul Rahmah : Allah Maha Sayang kepada kaum mukmin. Kita harus Khusnudzon.
4. Masyhadul Hikmah : Allah Maha bijaksana, Musibah yang diberikanNya pasti penuh hikmah dan banyak ilmu didalamnya..
5. Masyhadul Hamd : Kita menyaksikan bahwa semua musibah dan cobaan kita memuji Allah, karena Ujian, Cobaan, Musibah,Penyakit, Bencana yang dialaminya, kalau dia Ridho dan Sabar maka akan :
    1. Menghapuskan Dosa-dosanya
    2. Mengangkat Derajat
    3. Menghadap Allah dalam keadaan tidak ada dosa
    4. Dimasukkan kedalam Surga

6. Mashadul Ubudiyah : Ibadah Sabar. Allah menghendaki dengan adanya musibah agar kita sabar. Ganjaran bagi orang-orang sabar adalah bighoiri hisab tanpa hitungan.

Faidah dari ceramah Ustadz Yazid
Read More

Selasa, 02 Januari 2018

Menelusuri Jejak Keikhlasan Salafus Shalih

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Dahulu dikatakan: Bahwa seorang hamba akan senantiasa berada dalam kebaikan, selama jika dia berkata maka dia berkata karena Allah, dan apabila dia beramal maka dia pun beramal karena Allah.” (lihat Ta’thir al-Anfas min Hadits al-Ikhlas, hal. 592)
Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata kepada seseorang sembari menasihatinya, “Hati-hatilah kamu wahai saudaraku, dari riya’ dalam ucapan dan amalan. Sesungguhnya hal itu adalah syirik yang sebenarnya. Dan jauhilah ujub, karena sesungguhnya amal salih tidak akan terangkat dalam keadaan ia tercampuri ujub.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 578)
al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Dahulu kami bertemu dengan orang-orang yang riya’ dengan ilmu yang mereka punyai. Namun sekarang, mereka telah berubah yaitu riya’ dengan ilmu yang tidak mereka miliki.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 567)
Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan,”Barangsiapa yang mencela dirinya sendiri di hadapan banyak orang sesungguhnya dia telah memuji dirinya, dan hal itu adalah salah satu tanda riya’.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 543)
Sebagian orang bijak berkata, “Menyembunyikan ilmu adalah kebinasaan, sedangkan menyembunyikan amalan adalah keselamatan.” (lihat al-Istidzkar, Jilid 5 hal. 330)
Imam Ibnul Mulaqqin rahimahullah berkata, “Mengikhlaskan niat untuk Allah ta’ala senantiasa menjadi syari’at/ajaran semenjak masa-masa umat sebelum kita dan kemudian dilanjutkan di masa kita yang datang sesudah mereka. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah mensyariatkan untuk kalian agama sebagaimana apa yang telah diwasiatkan kepada Nuh.” (QS. Asy-Syura: 13). Abul ‘Aliyah menafsirkan, “Allah mewasiatkan kepada mereka untuk ikhlas kepada Allah ta’ala dan beribadah kepada-Nya yang tidak ada sekutu bagi-Nya”…” (lihat al-I’lam bi Fawa’id ‘Umdah al-Ahkam Jilid 1 hal. 164)
Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Sesungguhnya amal-amal itu menjadi berbeda-beda keutamaannya dan akan semakin besar pahalanya sebanding dengan apa-apa yang ada di dalam hati si pelaku amalan, yaitu iman dan keikhlasan…” (lihat Bahjah al-Qulub al-Abrar, dalam al-Majmu’ah al-Kamilah Juz 9 hal. 11)
Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya amal yang sedikit tapi terus-menerus itu lebih baik daripada amal yang banyak dan terputus dikarenakan dengan terus-menerusnya amal yang sedikit itu akan lebih melanggengkan ketaatan, melestarikan dzikir dan muroqobah, menjaga niat dan keikhlasan dan memelihara konsentrasi pengabdian kepada al-Khaliq subhanahu wa ta’ala. Dengan alasan-alasan itulah amal yang sedikit tapi kontinyu akan membuahkan pahala yang jauh lebih berlipat ganda daripada amalan yang besar tapi terputus. (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayani Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 88)
Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Orang yang paling utama adalah orang yang menempuh jalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan jalan para Sahabatnya yang istimewa yaitu melakukan ibadah badaniyah secara sederhana/pertengahan dan lebih bersungguh-sungguh dalam mengurusi ibadah-ibadah hati. Karena sesungguhnya perjalanan menuju kampung akhirat itu dilalui dengan perjalanan hati, bukan [semata-mata] perjalanan badan.” (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayani Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 101)
Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata: “Aku telah berjumpa dengan para fuqoha/ahli agama, dalam keadaan mereka tidak suka memberikan jawaban untuk masalah dan permintaan fatwa. Mereka tidak berfatwa kecuali dalam keadaan tidak ada pilihan lain bagi mereka kecuali harus berfatwa.” (lihat mukadimah Kitab az-Zuhd Mu’afa bin ‘Imran, hal. 58) 
Ibrahim at-Taimi rahimahullah berkata, “Tidaklah aku menghadapkan/menguji ucapanku kepada amal yang aku lakukan, melainkan aku takut kalau aku menjadi orang yang didustakan.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1167)
Ibrahim an-Nakha’i rahimahullah mengatakan, “Nyanyian/lagu-lagu itu akan menumbuhkan kemunafikan di dalam hati.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1222)
Mu’awiyah bin Qurrah rahimahullah berkata, “Apabila di dalam diriku tidak ada kemunafikan maka sungguh itu jauh lebih aku sukai daripada dunia seisinya. Adalah ‘Umar radhiyallahu’anhu mengkhawatirkan hal itu, sementara aku justru merasa aman darinya!” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1223)
Ayyub as-Sakhtiyani rahimahullah berkata, “Setiap ayat di dalam al-Qur’an yang di dalamnya terdapat penyebutan mengenai kemunafikan, maka aku mengkhawatirkan hal itu ada di dalam diriku!” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1223)
Adalah Ibnu Muhairiz rahimahullah, apabila ada orang yang memuji-muji dirinya maka dia berkata, “Tidakkah kamu mengetahui? Apa sih yang kamu ketahui -tentang diriku, pent-?” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa‘, hal. 742)
Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Para ulama mengatakan bahwa pujian tidak akan memperdaya seorang yang benar-benar telah mengenali hakikat dirinya sendiri.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa‘, hal. 743)
Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang tidak khawatir tertimpa kemunafikan maka dia adalah orang munafik.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1218)
Imam Ibnul Qoyyim rahimahulllah berkata, “… Seandainya ilmu bisa bermanfaat tanpa amalan niscaya Allah Yang Maha Suci tidak akan mencela para pendeta Ahli Kitab. Dan jika seandainya amalan bisa bermanfaat tanpa adanya keikhlasan niscaya Allah juga tidak akan mencela orang-orang munafik.” (lihat al-Fawa’id, hal. 34)
Malik bin Dinar rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk diamalkan niscaya Allah berikan taufik kepadanya. Dan barangsiapa menuntut ilmu bukan untuk diamalkan maka ilmunya akan semakin membuatnya congkak.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 569)
Imam Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mempelajari hadits demi memalingkan wajah-wajah manusia kepada dirinya maka di akherat Allah akan memalingkan wajahnya menuju neraka.” (lihat Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal, 1/136)
Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata: Ada seorang rahib yang bertemu denganku. Dia berkata, “Wahai Sa’id. Dalam fitnah akan menjadi jelas siapa yang menyembah Allah dan siapa yang menyembah thaghut.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 593)
Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Tidak bisa mengenali riya’ kecuali orang yang ikhlas.” (lihat Bustan al-Arifin, hal. 99)
Imam Yahya bin Ma’in rahimahullah berkata, “Tidaklah aku melihat seorang semisal Ahmad bin Hanbal. Kami telah bersahabat dengannya selama lima puluh tahun, meskipun demikian beliau sama sekali tidak pernah membanggakan kepada kami apa-apa yang ada pada dirinya berupa kesalihan dan kebaikan.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 536)
Muhammad bin Wasi’ rahimahullah berkata, “Seandainya dosa itu mengeluarkan bau niscaya  kalian tidak akan sanggup mendekat kepadaku, karena betapa busuknya bau [dosa] yang keluar dariku.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 365)
Qotadah rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah berfatwa dengan pendapatku sendiri sejak tiga puluh tahun lamanya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 367)
Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata: Malaikat naik ke langit membawa amal seorang hamba dengan perasaan gembira. Apabila dia telah sampai di hadapan Rabbnya, maka Allah pun berkata kepadanya, “Letakkan ia di dalam Sijjin [catatan dosa], karena amalan ini tidak ikhlas/murni ditujukan kepada-Ku.” (lihat al-Ikhlas wa an-Niyah, hal. 45)
Ibnu Abi Zaid al-Qairawani rahimahullah mengatakan, “Iman adalah ucapan dengan lisan, keikhlasan dengan hati, dan amal dengan anggota badan. Ia bertambah dengan bertambahnya amalan dan berkurang dengan berkurangnya amalan. Sehingga amal-amal bisa mengalami pengurangan dan ia juga merupakan penyebab pertambahan -iman-. Tidak sempurna ucapan iman apabila tidak disertai dengan amal. Ucapan dan amal juga tidak sempurna apabila tidak dilandasi oleh niat -yang benar-. Sementara ucapan, amal, dan niat pun tidak sempurna kecuali apabila sesuai dengan as-Sunnah/tuntunan.” (lihat Qathfu al-Jana ad-Dani, hal. 47)
Rabi’ bin Anas rahimahullah mengatakan, “Tanda agama adalah mengikhlaskan amal untuk Allah, sedangkan tanda keilmuan adalah rasa takut kepada Allah.” (lihat al-Ikhlas wa an-Niyah, karya Imam Ibnu Abid Dun-ya, hal. 23)
Muhammad bin Wasi’ rahimahullah berkata, “Apabila seorang hamba menghadapkan hatinya -untuk mengabdi- kepada Allah maka Allah pun akan menghadapkan hati hamba-hamba-Nya -untuk senang- kepadanya.” (lihat al-Ikhlas wa an-Niyah, hal. 41)
Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Benar-benar ada dahulu seorang lelaki yang memilih waktu tertentu untuk menyendiri, menunaikan sholat dan menasehati keluarganya pada waktu itu, lalu dia berpesan: Jika ada orang yang mencariku, katakanlah kepadanya bahwa ‘dia sedang ada keperluan’.” (lihat al-Ikhlas wa an-Niyyah, hal.65)
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Ketahuilah, bahwasanya keikhlasan seringkali terserang oleh penyakit ujub. Barangsiapa yang ujub dengan amalnya maka amalnya terhapus. Begitu pula orang yang menyombongkan diri dengan amalnya maka amalnya pun menjadi terhapus.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 584)
Hisyam ad-Dastuwa’i rahimahullah berkata, “Demi Allah, aku tidak mampu untuk berkata bahwa suatu hari aku pernah berangkat untuk menuntut hadits dalam keadaan ikhlas karena mengharap wajah Allah ‘azza wa jalla.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 254)
Abu Utsman al-Maghribi rahimahullah berkata, “Ikhlas adalah melupakan pandangan orang dengan senantiasa memperhatikan pandangan Allah. Barangsiapa yang menampilkan dirinya berhias dengan sesuatu yang tidak dimilikinya niscaya akan jatuh kedudukannya di mata Allah.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 86)
as-Susi rahimahullah berkata, “Ikhlas itu adalah dengan tidak memandang diri telah ikhlas. Barangsiapa yang mempersaksikan kepada orang lain bahwa dirinya benar-benar telah ikhlas itu artinya keikhlasannya masih belum sempurna.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 86)
Ibrahim at-Taimi rahimahullah berkata, “Orang yang ikhlas adalah yang berusaha menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebagaimana dia suka menyembunyikan kejelekan-kejelakannya.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 252)
Sufyan bin Uyainah berkata: Abu Hazim rahimahullah berkata, “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu lebih daripada kesungguhanmu dalam menyembunyikan kejelekan-kejelekanmu.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 231).
Muhammad bin Wasi’ rahimahullah berkata, “Sungguh aku telah bertemu dengan orang-orang, yang mana seorang lelaki di antara mereka kepalanya berada satu bantal dengan kepala istrinya dan basahlah apa yang berada di bawah pipinya karena tangisannya tetapi istrinya tidak menyadari hal itu. Dan sungguh aku telah bertemu dengan orang-orang yang salah seorang di antara mereka berdiri di shaf [sholat] hingga air matanya mengaliri pipinya sedangkan orang di sampingnya tidak mengetahui hal itu.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 249)
Sahl bin Abdullah at-Tustari rahimahullah mengatakan, “Orang-orang yang cerdas memandang tentang hakikat ikhlas ternyata mereka tidak menemukan kesimpulan kecuali hal ini; yaitu hendaklah gerakan dan diam yang dilakukan, yang tersembunyi maupun yang tampak, semuanya dipersembahkan untuk Allah ta’ala semata. Tidak dicampuri apa pun; apakah itu kepentingan pribadi, hawa nafsu, maupun perkara dunia.” (lihat Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, hal. 7-8)
Abul Qasim al-Qusyairi rahimahullah mengatakan, “Ikhlas adalah menunggalkan al-Haq (Allah) dalam hal niat melakukan ketaatan, yaitu dia berniat dengan ketaatannya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah ta’ala. Bukan karena ambisi-ambisi lain, semisal mencari kedudukan di hadapan manusia, mengejar pujian orang-orang, gandrung terhadap sanjungan, atau tujuan apapun selain mendekatkan diri kepada Allah ta’ala.” (lihat Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, hal. 8)
al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah mengatakan, “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’ sedangkan beramal untuk dipersembahkan kepada manusia merupakan kemusyrikan. Adapun ikhlas itu adalah tatkala Allah menyelamatkan dirimu dari keduanya.” (lihat Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, hal. 8)
Yusuf bin al-Husain rahimahullah berkata, “Sesuatu yang paling sulit di dunia ini adalah ikhlas.” (lihat Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, hal. 8)
Sufyan ats-Tsauri rahimahullah mengatakan, “Tidaklah aku mengobati suatu penyakit yang lebih sulit daripada masalah niatku. Karena ia sering berbolak-balik.” (lihat Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, hal. 8)
Seorang lelaki berkata kepada Muhammad bin Nadhr rahimahullah, “Dimanakah aku bisa beribadah kepada Allah?” Maka beliau menjawab, “Perbaikilah hatimu, dan beribadahlah kepada-Nya di mana pun kamu berada.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 594)
Abu Turab rahimahullah mengatakan, “Apabila seorang hamba bersikap tulus/jujur dalam amalannya niscaya dia akan merasakan kelezatan amal itu sebelum melakukannya. Dan apabila seorang hamba ikhlas dalam beramal, niscaya dia akan merasakan kelezatan amal itu di saat sedang melakukannya.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 594)
Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu ditanya tentang orang-orang yang bertakwa. Beliau pun menjawab, “Mereka adalah suatu kaum yang menjaga diri dari kemusyrikan dan peribadahan kepada berhala, serta mengikhlaskan ibadah mereka untuk Allah semata.” (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 211) 
Abul Aliyah berkata: Para Sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepadaku, “Janganlah kamu beramal untuk selain Allah. Karena hal itu akan membuat Allah menyandarkan hatimu kepada orang yang kamu beramal karenanya.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 568)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang membiasakan dirinya untuk beramal ikhlas karena Allah niscaya tidak ada sesuatu yang lebih berat baginya daripada beramal untuk selain-Nya. Dan barangsiapa yang membiasakan dirinya untuk memuaskan hawa nafsu dan ambisinya maka tidak ada sesuatu yang lebih berat baginya daripada ikhlas dan beramal untuk Allah.” (lihat Ma’alim Fi Thariq al-Ishlah, hal. 7)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seandainya seorang yang menyampaikan kebenaran memiliki niat untuk mendapatkan ketinggian di muka bumi (kedudukan) atau untuk menimbulkan kerusakan, maka kedudukan orang itu seperti halnya orang yang berperang karena fanatisme dan riya’. Namun, apabila dia berbicara karena Allah; ikhlas demi menjalankan [ajaran] agama untuk-Nya semata, maka dia termasuk golongan orang yang berjihad di jalan Allah, termasuk jajaran pewaris para nabi dan khalifah para rasul.” (lihat Dhawabith wa Fiqh Da’wah ‘inda Syaikhil Islam, hal. 109)
Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata “… Tidaklah diragukan bahwasanya keikhlasan seorang da’i memiliki pengaruh yang kuat terhadap mad’u/objek dakwah. Apabila seorang da’i itu adalah orang yang ikhlas dalam niatnya. Dia juga menyeru kepada manhaj yang benar. Dia membangun dakwahnya di atas bashirah/hujjah dan ilmu mengenai apa yang dia serukan itu. Maka dakwah semacam inilah yang akan memberikan pengaruh/bekas kepada para mad’u…” (lihat al-Ajwibah al-Mufidah ‘an As’ilah al-Manahij al-Jadidah, hal. 42)

Read More